2011 adalah Tahun Buku Digital
Di situs The Telegraph Kamis (18/08), Peraih Booker Prize 1996 Graham Swift dikabarkan mengeluhkan tren meningkatnya buku digital alias e-book. Katanya, kehadiran e-book ini mengancam nasib para penulis muda. Pasalnya, kata Swift, royalti untuk penulis buku digital ini lebih kecil dibanding buku versi cetak. Sementara, kehadiran buku digital ini membuat penerbit maupun produsen toko buku online tak perlu memikirkan soal royalti bagi sang penulis.
Lepas dari dampak digitalisasi buku cetak ini seperti di atas, tren kenaikan buku digital tak bisa disangkal. Kehadiran perkakas pembaca buku digital seperti Kindle e-reader, iPad, aneka tablet, sambung Swift, menjadi faktor pendorong meningkatnya minat baca buku digital ini.
Hal ini dipertegas dengan hasil penelitian situs eMarketer yang berbasis di Amerika Serikat. Menurut eMarketer, kesuksesan aneka perangkat pembaca digital maupun tablet telah mendorong gelombang anyar buku, majalah, maupun koran digital. Tren pembaca buku digital di kalangan orang muda-dewasa (18 tahun ke atas) Amerika Serikat dari tahun 2009 sampai 2011 semakin naik.
eMarketer mengatakan pula tren ini memberi keuntungan bagi para penerbit. Mereka tak hanya menjual produk digital, tapi juga bisa “menguangkan” (monetize) situs web dengan aneka iklan dan produk digitalnya. Banyak penerbit yang mulai mengembangkan sayap bisnis di ranah digital ini. Bahkan, ada yang sepenuhnya eksodus dari cetak ke digital. Masih seperti dikutip The Telegraph, Amazon mengumumkan penjualan Kindle e-reader pada awal tahun 2011 sudah melampaui penjualan buku tradisional. Sementara, Chief Executive Bloomsburry di London mencanangkan tahun 2011 sebagai tahun buku digital.
Kembali kepada kegelisahan Graham Swift, apakah buku digital benar-benar tidak menguntungkan para penulisnya? The Telegraph mengatakan banyak penulis independen yang telah meraup keuntungan dari Revolusi Buku Digital ini yang bisa menjual dengan cepat banyak kopi buku mereka tanpa melalui agen maupun penerbit. Pengarang independen Amerika John Locke, misalnya, pada Juni lalu telah mencetak sejarah sebagai orang pertama yang berhasil menjual sejuta buku digital tanpa melalui penerbit. Kini, namanya sejajar dengan penulis kondang Stieg Larsson dan James Patterson. Hanya dengan menjual bukunya seharga 99 cent per kopi—lebih murah ketimbang pengarang tenar yang biasa mematok harga pada USD 10—John Locke berhasil meraih penjualan sejuta bukunya hanya dalam lima bulan.
Hadirnya internet dan digitalisasi buku cetak diklaim oleh sebagian orang sebagai akhir dari zaman keemasan buku. Namun, situs TechCrunch pada Kamis ini (18/08) merilis sebuah tulisan yang judulnya sangat menarik “The Golden Era Of Books Isn’t Over. The Golden Era Of Books Is Now.” Justru, zaman keemasan buku dimulai sekarang ini saat format buku digital semakin digemari. Beralihnya ke format digital tidak berarti makin berkurangnya para kutu buku.





















