Attitude and Behavior Pengguna Internet di Indonesia
Riset yang dilakukan oleh MarkPlus Insight tentang aspirasi dan perilaku anak muda (golongan AB) di 6 kota besar di Indonesia awal tahun 2010 ini menunjukkan hasil yang mengejutkan. 6 dari 10 anak muda Indonesia mengaku lebih banyak mengakses Internet dalam 6 bulan terakhir dibanding media-media lain termasuk media konvensional TV.
Dan yang lebih mencengangkan adalah rata-rata 9 dari 10 anak muda itu memiliki akun di Facebook. Tren tersebut semakin tinggi pada kelompok usia sekolah SMA. Mereka menggunakan Facebook untuk berinteraksi dengan teman-teman mereka, mengupdate status tentang kehidupan sehari-hari, mulai dari topik percintaan sampai soal bertukar pikiran soal tugas-tugas sekolah.
Dinamisnya teknologi Internet menjadi dasar kami di MarkPlus Insight bersama Majalah Marketeers untuk melakukan kajian dan penelitian mengenai pengguna Internet di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mendapatkan berbagai data dan informasi terkait aspirasi, kecemasan, dan hasrat penduduk dunia online ini. Melalui riset ini kami ingin mendapatkan gambaran yang komprehensif bagaimana kebiasaan dan perilaku mereka dalam berinteraksi dan menggunakan internet. Dan yang lebih penting lagi, kami ingin juga meneliti, seberapa banyak jumlah pengguna Internet di Indonesia yang layak disebut Netizen sungguhan.
Metodologi Riset
Kajian yang dilakukan oleh MarkPlus Insight mengenai pengguna Internet di Indonesia ini dilakukan dengan menggunakan metode yang komprehensif mulai dari riset sekunder dan riset primer. Riset primer menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan kualitatif melalui focus group discussion (FGD) sebanyak 4 grup, yang terdiri dari anak sekolah (SMA), anak kuliah dan baru kerja, pegiat dan influencer social media, serta pengguna e-commerce. Pendekatan kedua menggunakan riset kuantitatif melalui survei terhadap 1,500 responden (margin of error 2,58 % dengan confidence interval 95 %) yang tersebar di 8 kota besar Indonesia yaitu Medan, Palembang, Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.
Untuk survei kuantitatif, responden harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan yaitu mereka saat ini adalah pengguna Internet dan mobile internet, berumur 15 – 64 tahun, dengan pengeluaran keluarga minimal Rp. 1,750,000. Teknik sampling yang digunakan dalan survei ini menggunakan metode multi stage random sampling, sedangkan pemilihan responden dalam satu rumah dilakukan dengan menggunakan metode kish grid. Proses wawancara terhadap responden dilakukan pada bulan September 2010.
Dari sekian banyak temuan riset Netizen, paling tidak ada sembilan temuan menarik yang bisa dijadikan panduan oleh pemasar dalam memahami pengguna Internet di Indonesia secara lebih mendalam.
1. 1 dari 3 anggota keluarga adalah pengguna Internet
Penetrasi pengguna Internet, baik yang melalui PC/Laptop maupun handphone, di kota-kota besar di Indonesia (urban) ternyata cukup tinggi, dan hal ini merata di semua kota yang di survei.
Jakarta sedikit lebih tinggi dibanding kota-kota yang lain. Penetrasi ini terutama didorong oleh menjamurnya penjualan smartphone, notebook, dan netbook beberapa tahun terakhir ini.
Meroketnya penjualan smartphone tidak hanya untuk smartphone high end, tapi juga beberapa brand smartphone low end mencatat pertumbuhan yang fantastis. Bahkan Nexian dari survey ini berhasil merangsek ke 5 besar diantara brand-brand global smartphone yang difavoritkan oleh pengguna Internet Indonesia.
2. 8 dari 10 orang melakukan akses melalui mobile Internet
Rata-rata orang menggunakan 1 – 2 gadget untuk Connect ke Internet. Kelompok menengah ke bawah, lebih memilih menggunakan handphone untuk akses internet.
Kalangan ekonomi menengah atas rata-rata menggunakan 2 gadget untuk mengkases internet. Selain lewat handphone mereka juga mengakses Internet melalui laptop pribadi mereka.
3. 3 – 5 jam dalam sehari mereka habiskan waktu untuk akses Internet
Pengguna Internet ini dalam kesehariannya, ternyata memang tidak bisa dilepaskan dari Internet. Dalam satu hari mereka bisa menghabiskan lebih dari tiga jam untuk berselancar di dunia maya. Kegiatan mereka cukup beragam, mulai dari yang hanya baca berita di portal online, upadate status di situs-situs social media yang mereka miliki, sampai kadang-kadang mereka melakukan transaksi online.
4. Pengguna Internet rata-rata memiliki lebih dari 1 gadget
Gadget merupakan barang wajib yang harus dimiliki oleh para pengguna Internet. Secara kelas sosial ekonomi, tentu saja kelas menengah atas memiliki lebih banyak memiliki gadget. Kalau dipukul rata untuk semua kelas ekonomi sosial ternyata pengguna Internet rata-rata memiliki gadget antara 1 dan 2 dimana handphone adalah gadget yang paling wajib dimiliki oleh mereka.
Bila dilihat lebih detil per kota, pengguna Internet di Denpasar dan Semarang mengkoleksi gadget lebih banyak dibanding kota-kota lainnya. Di dua kota ini, pengguna Internet rata-rata menggunakan lebih dari dua gadget. Selain handphone, mereka juga banyak yang memiliki laptop.
5. Media konvensional bukan lagi menjadi referensi utama pengguna Internet
Internet sudah menjadi preferensi utama dalam mendapatkan informasi dan hiburan selain TV. Bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, Internet lebih unggul di banding TV. Temuan lain yang cukup menarik sekaligus mengkhawatirkan adalah penetrasi media cetak seperti surat kabar, tabloid, dan majalah terlihat jauh di bawah media yang lain. Meski demikian ada beberapa kota yang memiliki karakteristik yang berbeda. Di Surabaya surat kabar masih populer, karena posisi Jawa Pos yang sangat kuat. Hal yang sama juga terjadi di Denpasar.
6. 6 % pengguna Internet pernah melakukan transaksi online
Faktor keamanan transaksi masih menjadi kendala utama mengapa penetrasi transaksi online masih sangat kecil di Indonesia. Hal ini valid terutama untuk transaksi yang berbasiskan kartu kredit. Karena itu pengguna Internet yang melakukan transaksi online dalam satu bulan terakhir tercatat hanya 6%. Meski demikian geliat jual beli online dari waktu ke waktu semakin tinggi. Apalagi setelah langkah beberapa bank, seperti BII, yang semakin aktif dalam membuat platform electronic payment gateway yang aman di dunia online.
Lalu barang-barang apa saja yang diminati oleh pengguna Internet untuk dibeli via online? Hasil survei menunjukkan bahwa barang – barang yang terkait dengan komunikasi dan elektronik yang paling diminati oleh mereka. Urutan pertama diduduki oleh komputer/laptop, kemudian disusul oleh film/DVD, handpone, video game, software, dan tiket pesawat.
7. 9 dari 10 pengguna Internet memiliki akun Facebook dan 1 dari 5 pengguna Internet memiliki akun Twitter
Facebook masih menjadi raja untuk situs social media bagi pengguna Internet di Indonesia. Hampir 100 % dari mereka memiliki akun Facebook, dan menariknya ini terjadi merata di semua kelas sosial ekonomi. Twitter yang muncul belakangan ternyata dengan cepat bisa cukup populer di posisi kedua dengan perolehan 20%. Jika dilihat dari status sosial ekonomi terlihat bahwa kalangan atas lebih sering “berkicau” di twitter dibanding kalangan menengah kebawah. Banyak kalangan percaya bahwa revolusi 140 karakter Twitter ini dalam waktu singkat akan mampu menyamai popularitas Facebook.
8. Dalam satu bulan rata-rata mereka menghabiskan 50 – 150 ribu untuk akses Internet
Siapa bilang pengguna Internet maunya gratisan terus? Hasil riset menunjukkan bahwa mereka mengalokasikan sebagian pengeluarannya untuk akses internet. Dalam sebulan mereka menghabiskan Rp 166,000 hanya untuk akses Internet melalui PC/Laptop. Sementara melalui handphone mereka rata-rata menghabiskan Rp 86,000 dalam sebulan.
Jika diteliti per umur, anak muda lebih sedikit pengeluarannya dibanding orang dewasa. Untuk akses intenet melalui handphone dalam sebulan anak muda menghabiskan Rp. 85,000 sementara orang dewasa menghabiskan Rp. 95,000. Untuk koneksi melalui PC/Laptop dalam sebulan anak muda menghabiskan Rp. 150,000, sementara orang dewasa menghabiskan Rp. 200,000.
9 Profil Pengguna Internet di Indonesia
Riset “Netizen Indonesia 2010” ini juga menunjukkan bahwa ternyata para pengguna Internet tidaklah monolitik, mereka sangat beragam baik terkait aspirasi maupun perilakunya.
Menurut karakter psikografisnya, ternyata pengguna Internet bisa dikelompokkan menjadi tiga:
− Negative (37,8 %), mereka adalah pengguna Internet yang cenderung memandang bahwa Internet itu banyak sisi negatifnya dan tidak baik buat keluarga, mereka ini cenderung konservatif, dan memiliki pandangan tradisional.
− Moderate (32,9 %), mereka adalah pengguna Internet yang menggunakan Internet sesuai dengan kebutuhan mereka, menurut mereka Internet adalah sumber informasi dan juga sekaligus adalah sarana hiburan.
− Positive (29,9 %), mereka adalah pengguna Internet yang menggunakan Internet agar tidak ketinggalan trend, buat mereka Internet adalah segalanya, mereka berpandangan bahwa Internet adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Ketiga hal tersebut dapat dibaca sebagai alasan mereka untuk connect. Artinya, secara psikografis, alasan orang untuk masuk ke dunia Internet pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu alasan negatif, alasan yang moderat, dan alasan yang positif. Ada orang yang memang punya reason to connect yang sifatnya negatif, ada yang biasa-biasa saja, dan ada pula yang punya reason to connect yang memang bersifat positif.
Kedua, selain melihat reason to connect, kami juga melihat tentang kebiasan dan perilaku pengguna internet. Pembagian ini diadaptasi dari pola Socio-Technographic atau Groundswell. Hanya saja, di sini kami membagi pengguna Internet di Indonesia menjadi tiga. Menurut kebiasaan dan perilakunya, pengguna Internet di Indonesia ada yang:
− Passive (13,6 %), mereka adalah pengguna Internet yang pasif, baru sebatas sebagai “pembaca dan penonton”, mereka baru sebatas membaca berita di situs-situs berita dan forum online, mendengarkan podcast, menonton video di youtube.
− Average (81,9 %), mereka adalah pengguna Internet kebanyakan yang dari sisi aktifitasnya lebih banyak di banding yang passive, mereka sudah memiliki akun dan mengupdate status mereka di situs-situs social media, seperti Facebook, Twitter, dll. Mereka juga kadang – kadang menambahkan tag di website maupun photo di situs social media
− Active (4,4 %), mereka adalah pengguna Internet yang aktif, mereka memiliki dan menulis artikelnya di blog pribadi mereka dan juga di forum-forum oline, mereka juga aktif berkontribusi menulis review produk dan jasa.
Jika disilangkan kedua hal tersebut di atas, Dari ketiga profil perilaku dan psikografi pengguna Internet tersebut akhirnya profil komunitas pengguna Internet bisa di kategorikan menjadi 9 ketegori.
NetTerrorist (2,1 %) Mereka adalah pengguna Internet yang secara aktif menyebarkan aura negatif kepada masyarakat dengan menggunakan media internet. Alasan (reason to connect) mereka masuk ke media Internet dari awalnya memang untuk hal-hal yang usil dan negatif.
Contohnya adalah mereka yang menyebarkan permusuhan, kebencian, atau konten yang sifatnya berbau SARA melalui internet. Ada pula mereka yang tampil di Internet, apakah itu lewat blog, Facebook atau Twitter, dengan positioning-nya sebagai anti-tesis terhadap suatu golongan atau figur publik. Jumlah mereka sidikit tapi bisa memberikan pengaruh kepada followernya. Sebagai orang yang sesat, ia bisa bikin orang lain ikut murtad. Geert Wilders dengan Fitna-nya, dan juga Terry Jones dari Dove World Outreach Center adalah contoh dari NetTerrorist.
NetStriver (31,3 %) Jumlahnya banyak. Rata-rata NetStriver ini adalah orang yang skeptis, yang love to hate. Mereka hidup di forum, karena bisa nyaman tampil tanpa nama asli. Karena anonim ini mereka bisa bergerak bebas untuk melakukan hal-hal yang usil di Internet.
Mereka berpeluang untuk bisa mengamini NetTerrorist dan ikut ‘murtad’ menyebarkan berita usil ke masyarakat Netizen. Bagi para ugly marketer yang ingin melakukan black-campaign lewat Internet, NetStriver adalah mangsa yang enak untuk dirangkul. Namun, jika menemukan sisi rasionalnya, NetStriver bisa pula bergerak ke kanan menjadi Net Crawler, NetWorker, atau NetPublisher.
NetAvoider (4,4 %) Secara psikografis NetAvoider skeptis terhadap Internet yang menurut mereka banyak negatifnya, sehingga tak tahan untuk berlama-lama online. Mereka menggunakan Internet hanya untuk sekedar ingin tahu saja atau terpaksa. Dari segi aktivitas, NetAvoider adalah pengguna Internet yang pasif, hanya menjadi penonton di dunia online.
NetPublisher (1,3 %) Mereka menggunakan Internet sebagai media untuk mem-broadcast eksistensi mereka kepada masyarakat. Internet dipandang sebatas sarana yang sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mereka. Beberapa brand (korporat, produk, atau personal) yang masuk ke social media sebagai sarana komunikasi dan eksistensi bisa dikategorikan tipe ini. Secara rasional, mereka memandang bahwa eksis di Internet itu penting.
NetWorker (26,4 %) Ini adalah rata-rata orang (common people) yang Connect ke Internet secara rasional hanya untuk fesbukan, Twitteran, jual-beli di Kaskus, ikut Linkedin dan menggunakan barang sosial media lainnya, supaya bisa refresh dan memperluas jaringan mereka.
NetCrawler (4,6 %) Bagi mereka, Internet secara rasional memang penting. Namun karena masih baru belajar merangkak bagaimana menggunakan Internet untuk kepentingan dan kebutuhan mereka, NetCrawler masih pada tahapan menjadi penonton biasa di dunia online.
NetAdvocate (1,0 %) Mereka ini adalah influencer, pejuang sejati internet, memiliki idealisme tentang keterbukaan, persamaan, kebebasan berbicara, dan juga semangat yang luar biasa serta kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide mereka kepada masyarakat. Contoh dari golongan ini diantaranya adalah Didi Nugrahadi, Enda Nasution, Ndorokakung, Budiono Darsono, Nukman Lutfie, Andrew Darwis, hingga Adib Hidayat.
NetJunkie (24,2 %) Mereka adalah common people yang menggunakan Internet untuk meng-connect diri secara positif dengan komunitas mereka di dunia online. Rata-rata dari mereka punya nama dan network di dunia maya. Orang-orang tipe NetJunkie ini banyak ditemukan di komunitas Fresh, Pesta Blogger, Kopdar Jakarta, Startuplokal, dan lain sebagainya.
NetRookie (4,6 %) Mereka adalah pendatang baru di dunia internet, baru mengenal Internet dan jam terbang mereka dalam berselancar di interner masih terbatas. Aspirasi mereka adalah untuk jadi NetJunkie supaya dapat membangun sebuah karakter yang dikenal oleh orang-orang di dunia online.
Kesimpulan dan implikasinya.
Sebagai seorang pemasar, kita dituntut untuk dapat memahami setiap dinamika dan perubahan yang terjadi di konsumen. Dengan pemahaman yang baik tentu saja harapannya adalah strategi pemasaran yang kita susun sesuai dengan karakter konsumen yang kita tuju.
Karakter netizen yang “liquid” dan horizontal menuntut pemasar tidak cukup hanya menggunakan strategi pemasaran yang konvensional, dibutuhkan terobosan-terobosan baru yang out of the box untuk bisa “menaklukkan” mereka. Kalau selama ini pemasar lebih banyak membidik mereka dari kejauhan, maka sekarang yang harus dilakukan oleh pemasar adalah brand kita harus hadir dan hidup bersama mereka. Brand kita harus bisa selalu terkoneksi dengan mereka dimanapun mereka berada.
Dilain pihak pasar Netizen yang tidak monolitik memberikan peluang kepada pemasar melakukan identifikasi kira-kira tipe Netizen mana yang paling cocok dengan karakter brand atau perusahaan sehingga pemasar bisa menentukan strategi pemasaran apa yang paling tepat mendekati mereka agar brand atau perusahaan bisa di terima para Netizen dengan lapang dada.
Dilain pihak hadirnya social media, seperti Faceebook dan Twitter membuat dunia semakin berisik akibat kicauan-kicauan para Netizen ini, karena itu para pemasar memerlukan indera keenam untuk bisa menangkap hasrat dan kegelisahan mereka. Lalu apa yang harus dilakukan oleh pemasar? jawabnya cuma satu , Dengarkan mereka, dengarkanlah apa yang mereka bincangkan?, apa yang mereka keluhkan?, karena itu sekali lagi kehadiran brand kita dihidup mereka adalah suatu keharusan.
Instant Communication
Salah satu kegelisahan utama para Netizen adalah mereka terputus dari internet, mereka ini ingin always connected dengan teman-temannya, hal ini menuntut pemasar untuk menyediakan fasilitas dan platform yang mampu membuat para netizen selalu terkoneksi satu sama yang lain. Platform ini juga bisa digunaka sebagai wadah bagi para Netizen agar selalu terkoneksi dengan brand yang kita punya.
Di Indonesia hampir semua brand ternama sudah memanfaat Facebook dan Twitter sebagai salah salah satu sarana komunikasi dengan pelanggannya, tidak hanya brand-brand produk IT saja, bahkan produk farmasi seperti Promag juga hadir di Internet. Melalui www.ahlinyalambung.com, Promag menyapa para Netizen dengan berbagai informasi seputar sakit mag dan lambung, disamping itu di website ini disediakan fasilitas live chat dan forum.
Network Development
Para Netizen memang membuat dunia semakin berisik, namun keberisikan mereka ini harus bisa di manfaatkan oleh pemasar, mereka sangat suka saling bertukar ide dan pikiran antara satu dengan yang lain, karena itu pemasar sebaiknya memfasilitasi mereka dengan menyediakan platform agar mereka bisa saling terkoneksi.
Platform itu selain sebagai sarana ngobrol para Netizen, bagi pemasar juga bisa di gunakan sebagai sarana untuk “mendengarkan” mereka, apa hasrat dan kegelisahan mereka, apa saja keluhan mereka, dan barangkali pemasar juga bisa mendapatkan ide-ide baru buat pengembangan produk baru.
Mystarbucks.com adalah contoh global yang bagus, dimana di website ini para pelanggan Starbucks bisa saling sharing pengalaman mereka bersama teman-teman mereka pada saat minum kopi di Starbucks, disini bahkan kadang-kadang Starbucks mengadakan kontes ide-ide untuk pengembangan produk-produk baru Starbucks.
Gadget-powered Connection
Gadget adalah makanan pokok bagi Netizen, mereka kebanyakan memiliki lebih dari satu item gadget, bahkan untuk handphone mereka kebanyakan memiliki lebih dari handset, mereka ini juga memiliki pengetahuan yang sangat baik tentang gadget-gadget baru yang akan keluar di masa depan, mereka juga sangat antusias terhadap setiap peluncuran gadget baru.
Karena itu, itu untuk bisa mencuri perhatian Netizen, pemasar harus harus memasukkan brandnya ke dalam gadget yang banyak di gunakan oleh para Netizen. Brand-brand global sudah memulai beberapa tahun yang lalu misal Nike masuk di Iphone, Starbucks masuk di Blackberry. Di Indonesia, Kompas menjadi aplikasi pertama surat kabar di Indonesia yang masuk ke Ipad.




















