This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Wednesday,July 30 2014

Concepts

Bagaimana Cara Memasarkan Daerah di Indonesia?

October 09 2010 | By Marketeers
Untuk konteks Indonesia saat ini, para pemasar daerah masih belum memiliki tool memadai yang dapat mereka gunakan untuk membangun daya saing dan memasarkan daerahnya ke pelanggan yang mereka bidik. Kami mengamati, di tengah era otonomi ini banyak para bupati dan pejabat daerah yang mengalami kebingungan karena tak tahu apa yang harus diperbuat untuk membangun daya saing dan memasarkan daerah mereka.

Secara umum memasarkan daerah berarti mendesain suatu daerah agar mampu memenuhi dan memuaskan keinginan dan ekspektasi pelanggannya. Siapa pelanggan suatu daerah? Yang pertama tentu saja penduduk dan masyarakat daerah tersebut yang membutuhkan layanan publik yang memadai. Kedua, apa yang kami sebut TTI (trader, tourist, investor) baik dari dalam maupun luar daerah. Ketiga, talent (SDM berkualitas), developer (pengembang), organizer (event organizer)—disingkat menjadi TDO—dan seluruh pihak yang memiliki kontribusi dalam membangun keunggulan bersaing daerah (lihat gambar).



Membangun keunggulan bersaing daerah menurut Michael Porter, seorang maha guru strategi, tidak lain adalah upaya meningkatkan produktivitas (nilai output yang dihasilkan per unit input yang digunakan) yang pada gilirannya akan menaikkan kualitas dan standar hidup masyarakat dalam jangka panjang. Dasar pemikiran dari model ini adalah upaya menarik sumber daya terbaik baik dari dalam maupun luar daerah (nasional maupun global) sebagai landasan bagi daerah untuk memacu produktivitasnya.

Secara garis besar model ini berisi tiga langkah strategis. Pertama menjadi tuan rumah yang baik (“Be a good host”) bagi pelanggan daerah. Kedua, memperlakukan mereka secara baik (“Treat your guest properly”). Dan terakhir, membangun sebuah “rumah” yang nyaman bagi mereka (“Building a home sweet home”).

Langkah strategis pertama merupakan upaya untuk menarik dan mengakuisisi pelanggan (customer acquisition). Yang kedua langkah untuk memuaskan mereka (customer satisfaction). Sementara, langkah ketiga merupakan upaya mempertahankan (customer retention). Dalam uraian berikut kami akan mencoba menguraikan langkah-langkah tersebut secara lebih mendalam.

Pertama, untuk menjadi tuan rumah yang baik maka harus terjadi kolaborasi kohesif (cohesive collaboration) antara masyarakat (commu¬nity), kalangan bisnis/wirausaha (entrepreneurs), dan pemerintah daerah (government). Tiga pelaku utama pemasaran daerah ini haruslah mampu saling mengedukasi agar mereka menjadi knowledgable dan terus menyamakan persepsi dan gerak mengenai perlunya menarik TTI-TDO dalam rangka mendongkrak produktivitas daerah dan akhirnya standar hidup masyarakat. Kolaborasi kohesif ini diperlukan agar aktivitas masyarakat, operasional bisnis, dan kebijakan pemerintah daerah selaras dan saling menunjang sehingga terbentuk iklim yang baik yang mampu menarik TTI-TDO.

Dari sisi aktivitas masyarakat, tiga pelaku utama di atas harus mendorong agar semua lapisan masyarakat (termasuk LSM dan DPRD) bersikap “welcome” terhadap kedatangan TTI-TDO dan sumber daya dari luar. Jargon “putra daerah” dalam pembangunan daerah misalnya, sudah waktunya dihapuskan. Kenapa? Karena urgensinya di sini adalah bagaimana mendapatkan talenta terbaik—terlepas dari mana mereka berasal—bukannya nasionalisme sempit kedaerahan. Harus diingat keberhasilan Bali sebagai salah satu pusat pariwisata dunia tak lepas dari sikap positif (“welcome”) penduduknya terhadap wisatawan yang masuk ke pulau tersebut, tak peduli dari mana si wisatawan tersebut berasal.
.
Dari sisi operasional bisnis mereka harus terus-menerus membangun iklim bisnis yang baik dan menjamin semakin meningkatnya peluang investasi di daerah tersebut. Kalangan bisnis haruslah secara kontinu membangun kompetensinya, agar produktivitas bisnis yang mereka kembangkan juga terus meningkat, dan pada gilirannya produktivitas perekonomian secara keseluruhan juga akan terdongkrak. Salah satu aspek yang juga tidak kalah penting adalah terbentuknya jaringan bisnis di daerah tersebut dengan jaringan bisnis nasional/global, sehingga daerah akan memiliki akses pada sumber daya global dan mereka mampu menangkap peluang-peluang pasar global.

Yogyakarta adalah salah satu contoh yang sangat menarik mengenai bagaimana komunitas dunia usaha di kota ini (KADIN, HIPMI, Indonesia Marketing Association, dan sebagainya) mampu memainkan peran sebagai inisiator dan pelaku penting pemasaran daerah dengan menggandeng pemerintah daerah dan masyarakat luas. Pada saat mengembangkan kampanye branding ”Jogja: Never Ending Asia”, komunitas dunia usahalah yang mempelopori program ini sehingga terbentuk cohesive collaboration antar tiga pelaku utama pemasaran daerah yaitu pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat. Walaupun masih banyak kekurangan di sana sini, harus diakui program ini memberikan landasan sangat bagus bagi Yogyakarta dalam memasarkan diri ke investor dan turis.

Sementara dari sisi kebijakan pemerintah daerah, mereka harus mendorong agar kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan mampu mendukung kondusifnya iklim bisnis dan investasi. Daerah yang miskin misalnya, tidak bisa dengan semena-mena mengeluarkan kebijakan yang ngawur dalam memungut pajak untuk mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebanyak mungkin. Pungutan pajak yang membabi-buta dan berorientasi jangka pendek semacam itu tentu saja akan menyebabkan TTI-TDO lari ke daerah lain.

Kedua, memperlakukan TTI-TDO secara semestinya berarti bahwa suatu daerah haruslah mampu mengidentifikasi keinginan dan ekspektasi mereka, dan secara responsif memenuhi keinginan tersebut. Seperti kami ungkapkan di atas, langkah kedua ini merupakan upaya pemuasan pelanggan yang sudah masuk ke suatu daerah agar mereka betah dan mampu menjalankan aktivitasnya secara baik. Untuk dapat melakukannya, daerah mau tidak mau harus secara terus-menerus memperbaiki liveability, investability, dan visitability.

Liveability daerah bisa ditingkatkan dengan menjamin kom¬petitifnya biaya hidup (cost of living), memperbaiki fasilitas umum dan layanan publik, menekan tingkat kriminalitas, di samping tentu menciptakan lingkungan yang nyaman. lnvestability ditingkatkan dengan menyediakan tenaga kerja terampil yang memadai, terus memperbaiki infrastruktur dan fasilitas produksi, menjamin tetap menariknya peluang investasi, akses ke pusat-pusat bisnis nasional/global, sistem birokrasi dan regulasi yang kondusif, dan sebagainya. Visitability diperbaiki dengan menyediakan fasilitas transportasi akomodasi yang kompetitif, terus meng-upgrade dan merevitalisasi tujuan-tujuan wisata, membangun kemudahan (covenience) serta menciptakan suasana aman dan nyaman.

Dalam konteks ini sangat penting peran survei pelanggan untuk melihat liveability, investability, dan visitability di atas sekaligus mengetahui tingkat kepuasan pelanggan yang beraktivitas di daerah tersebut. Berdasarkan hasil survei tersebut, mereka dapat merancang program customer satisfaction dan memantau kinerja daerah dalam memenuhi ekspektasi pelanggan dari waktu ke waktu. Survei dan program semacam ini merupakan hal yang biasa dilakukan oleh kota-kota atau negara bagian di Amerika Serikat sebagai upaya mereka mengidemifikasi dan memenuhi keinginan dan ekspektasi pelanggan.

Ketiga, untuk membangun ”rumah” yang nyaman bagi kegiatan TTI-TDO maka daerah harus menyediakan wahana yang memadai bagi aktivitas mereka. Singapura adalah contoh negara kota yang mampu menjadi “rumah ideal” bagi ribuan perusahaan dari seluruh dunia. Bisa dipastikan perusahaan multinasional dari seluruh penjuru dunia memiliki kantor representatif di Singapura.

Salah satu faktor kuncinya adalah karena Singapura sangat serius menyediakan infrastruktur/suprastruktur yang memadai untuk menunjang akti¬vitas operasional mereka, mulai dari fasilitas pameran dan konferensi, infrastruktur fisik dan telekomunikasi yang canggih, akses ke pusat¬-pusat bisnis global, hingga perguruan-perguruan tinggi untuk menarik orang-orang berbakat dari seluruh dunia.

Agar turis merasa berada di rumah sendiri maka daerah harus menyediakan atraksi yang menarik serta akses aman, nyaman, dan kompetitif ke berbagai tujuan wisata. Untuk menarik putra-putra terbaik dari luar daerah, pemerintah daerah harus mengembangkan perguruan tinggi seperti politeknik dan universitas yang cukup berkualitas yang akan menjadi daya tarik bagi mereka.

Begitu juga untuk organizer, daerah harus merancang berbagai kegiatan dan beragam bentuk konferensi yang dijadwalkan secara periodik. Hal yang sama juga dilakukan untuk pelanggan yang lain. Dengan berbagai wahana ini diharapkan pelanggan di atas akan menjadikan daerah yang bersangkutan sebagai long-term home base-nya dan upaya customer retention akan terlaksana dengan baik.

-----
Note: Untuk lebih lanjut, lihat buku "Attracting Tourist, Trader, Investors (TTI)" oleh Hermawan Kartajaya et al, Gramedia Pustaka Utama, 2005

Marketeers

Editorial team of Marketeers Media Fleet (media unit of MarkPlus, Inc). Follow our Twitter @the_marketeers

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Persaingan di perbankan Indonesia sangat ketat. Kalau bank tidak berinovasi, pasti akan ketinggalan."

-Abdul Rachman, Direktur PT Bank Mandiri, Tbk-