This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Saturday,April 19 2014

Case Studies

Bisnis "Menyulap" Sampah Jadi Berkah

June 21 2011 | By mira

Bisnis yang baru dirintis ini lebih berdasarkan pada hobi dan ketertarikan terhadap bagaimana meminimalisir sampah industri pakaian. Hal ini merupakan bentuk cinta saya pada lingkungan dalam sekala kecil. Bagaimana pun limbah tak bisa diabaikan begitu saja, dalam jumlah kecil mau pun besar pada jangka waktu yang panjang limbah-limbah ini akan terakumulasi di lingkungan tempat tinggal manusia dan kemudian mengakibatkan permasalahan. Tugas saya adalah menyulap limbah tersebut menjadi barang yang bernilai jual, dan menjadikannya produk-produk yang mampu bersaing dengan produk import sejenis yang menguasai pasar Indonesia.


Bisnis yang berbasis re-use, hand made, dan tentunya produk bersifat limited ini dimulai dari dalam kamar kosan dan kemudian berkembang untuk melibatkan orang-orang dilingkungan saya yang memerlukan pekerjaan sampingan. Saya menyadari betul apa yang saya perbuat haruslah memiliki efek manfaat kepada orang lain. Melalui usaha yang saya lakukan dalam kamar kost-an ini, saya berbagi ilmu dan keterampilan dengan tetangga terdekat yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga.


Setelah menghasilkan produk jadi seperti kalung, gelang, cincin, brooch, dan syal,  saya memasarkan produk-produk tersebut hanya sebatas kepada rekan-rekan saja dengan sistem consignment, namun seiring perkembangan teknologi informasi saya berhasil menjual produk tersebut ke pada para pembeli yang berada di luar negeri seperti Itali, Amerika Serikat, Mexico, Irlandia, Australia, Slovakia dan Afrika Selatan. Dari hasil penjualan selama kurang lebih satu tahun ini saya mencoba untuk menjalin kerjasama dengan Mall of Indonesia yang banyak dikunjungi oleh kalangan menengah ke atas . Selain untuk meningkatkan omset penjualan, saya ingin mencoba untuk menguji produk yang saya buat diterima atau tidak di kalangan masyarakat tersebut. Saya ingin meyakinkan kepada masyarakat bahwa produk dengan konsep re-use selain ramah lingkungan tak kalah menarik dibandingkan dengan produk yang non re-use, dan ternyata saya bisa melihat hasilnya dengan naiknya angka penjualan.


Dalam waktu satu tahun ini, tak mudah bagi saya untuk membangun brand image dari product yang saya buat, sampai pada akhirnya saya berhasil membuat varian  yang disesuaikan dengan usia dan profesi. Contohnya, produk  yang berbahan re-use kain batik lebih banyak diminati oleh usia di atas 20 tahun dan berprofesi sebagai pekerja kantoran. Sedangkan produk yang dibuat dari bahan sisa industry T-shirt lebih bnyak digunakan oleh konsumen dengan usia remaja sampai 25 tahun. Dengan demikian saya menjadi lebih mudah untuk menentukan model dan varian produk yang lebih banyak diminati konsumen.


Hal lain yang menjadi tantangan saya adalah bagaimana me-refresh product dari waktu ke waktu. Itu artinya saya harus selalu peka dengan perkembangan fesyen dan membaca karakter kecenderungan para kompetitor sehingga saya harus membuat produk yang beda dan unik. Saya yakin kretivitas dan kepercayaan diri adalah modal yang tak kalah penting selain modal financial, karena dalam kreatitas ada proses think and create yang bersinergi satu sama lain. Mari menjadi generasi muda yang kreatif dan optimistis.


“Artikel ini ditulis untuk kontes Youth Startup Icon 2011”


*Ilustrasi dari http://rachelgoodchild-recycle.blogspot.com/2011/02/green-post.html




mira

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Kuncinya, Introspeksi. Harus menerima kritikan orang lain. Ketika kita menutup telinga pada kritikan, itulah akhir dari segalanya"

-Wulan Tilaar, Vice Chairman Martha Tilaar Group-