Digital Marketing, Sebuah Kemutlakan?
Euforia Internet terus belangsung. Bahkan diprediksi terus berkembang mengingat tidak ada hukum mundur bagi teknologi, khususnya teknologi digital ini. Mau tidak mau, pemasaran pun harus menyentuh sisi digital tersebut. “Sekarang ini, segala sesuatu hampi tidak lepas dari pengaruh dunia digital,” kata Henky Prihatna, Indonesia Country Consultant Google yang menjadi narasumber tamu workshop “Integrating Marketing and Finance” di Kampus Marketing Institute of Marketing, MarkPlus, Jakarta, Jumat (17/02/2012).
Hengky memaparkan beberapa data tentang signifikannya media digital bagi kehidupan kontemporer, khususnya bisnis dan pemasaran. Menurutnya, Internet selama ini menyumbang GDP sebesar 1,6 persen. Angka ini melebihi sumbangan dari industri minyak dan gas sebesar 1,4 persen atau empat kali lebih besar dari sumbangan listrik. Hengky juga memperlihatkan grafik tren popularitas Internet yang dimulai pada 1990 melaju lebih tinggi ketimbang media cetak yang dimulai pada 1450, radio pada 1895, maupun televisi yang dipopulerkan sejak 1922.
Di pasar digital ini, Google berhasil menguasai pangsa pasar sebesar 97 persen. Sementara itu, ada 50 juta pengguna Internet di Indonesia dan 30 juta pengguna YouTube. Hengky menyebut orang Indonesia menghabiskan waktunya paling banyak untuk mengakses Internet, yakni 35 jam seminggu, melebihi televisi, radio, maupun cetak. Meskipun belanja online belum populer di Indonesia, keputusan pembelian maupun proses riset produk, mereka lakukan melalui Internet. “Meski 96 persen belanja orang Indonesia masih offline, tapi riset produk mereka lakukan secara online. Jadi, online mempunyai daya pengaruh besar pada keputusan belanja offline tersebut,” imbuh Hengky.
Melihat perilaku konsumen seperti di atas, sambung Hengky, para pemasar kudu sadar bahwa pemasaran tidak lagi hanya mengunggulkan media-media konvensional. Sebab itu, pemasaran digital menjadi kemutlakan. Google menawarkan beberapa alat yang bisa dilakukan untuk pemasaran digital ini, seperti Google Insight, Google AdWords, dan Google Display Network. Google Insight, tambah Hengky, tak cuma digunakan untuk bisnis, tapi juga untuk mengetahui siapa calon presiden yang bakal menang. Pengalaman di Filipina maupun Obama di Amerika Serikat, membuktikan bahwa di masa penghitungan suara, Google Insight memberi data siapa calon yang paling dicari di Internet dan itu biasanya menang. “Demand-nya sangat besar. Ada 81 persen orang yang menggunakan search engine. Jadi, search engine merupakan sebuah gateaway utama,” tandas Hengky.
Selain itu, YouTube yang juga produk besutan Google bisa dijadikan media pemasaran berbasis visual. Menurut Hengky, YouTube merupakan mesin pencari terbesar nomer dua setelah Google dengan 550 juta pengguna unik yang melihat YouTube.
Penghitungan cost untuk periklanan online ini juga unik. Uniknya, cost justru ditentukan oleh pelanggannya sendiri. Misalnya, Google menawarkan sistem pay per click, cost per click, maupun click per rate yang mana pemasang iklan dikenai charge berdasarkan jumlah klik dari pelanggan. “Harga ditentukan pelanggan. Inilah era sekarang!” kata Hengky.
Teknologi mesin pencari Google ini masih didukung dengan teknologi lain yang mampu menghitung kualitas dan kuantitas pencarian secara efektif, efisien, dan terukur.





















