This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Thursday,October 30 2014

Case Studies

Entrepreneurship Itu Progress dan Persistent!

April 27 2011 | By David Setiawan


Entrepreneurship, trend bisnis yang berhasil membawa Indonesia ke fase ‘tinggal landas’ secara perekonomian. Siapa yang menyangka ada 50 juta orang entrepreneur di Indonesia saat ini? Dengan jumlah penduduk di Indonesia sekitar 250 juta orang. Angka yang fantastis, karena hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki semangat entrepreneur, memiliki jiwa owner, dan kreatif tentunya dalam mengembangkan bisnisnya. Hal yang membanggakan tentunya bagi Indonesia sampai bisa mencapai GDP USD 3000.


Entrepreneur di Indonesia memang berkembang sangat pesat, karena memang secara makro, bisnis skala SME – Small Medium Enterprise (UKM) sedang melejit luar biasa. Brand-Brand yang tidak pernah terdengar sebelumnya bisa muncul dengan ide-ide out of the box. Semua orang jadi sangat kreatif untuk memunculkan ide-ide ‘gila’nya. New wave media seperti social media dan online shop menjadi pasar yang tiba-tiba berkembang secara dahsyat.


Mungkin dulunya bisnis skala SME dipandang sebelah mata, karena kebanyakan orang melihat industrial dan perusahaan skala nasional sebagai pendulang keuntungan yang melimpah ruah. Tidak salah dari pemikiran tersebut, namun seringkali tidak melihat dari sisi yang lain bahwa resiko bisnis juga akan semakin besar seiring dengan skala bisnisnya. Sedangkan bisnis SME dengan modal dan skala yang lebih kecil, jauh lebih ‘lincah’ dan mampu melakukan ekplorasi kreatif lebih mudah. Apalagi ditunjang dengan market Indonesia yang sangat besar, tentu ini akan memberikan peluang besar.


Yang menjadi menarik kemudian, tidak semua orang berhasil menjadi entrepreneuer. Banyak orang mencoba masuk di bisnis SME, namun tidak berhasil untuk mengembangkannya karena tidak memiliki perspektif dan paradigma yang tepat. SME bukanlah bisnis skala korporat yang memang memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Setiap aspek memang harus ‘perfect’ di bisnis skala korporat, mulai dari finance, Human Resources, Marketing, Production, dll. Yang menjadi kendala bagi entrepreneur adalah tuntutan perfection di awal bisnisnya.


Entrepreneur memang sering dipandang sebagai bonek, karena beberapa hal bagibusinessman belum siap untuk terjun ke bisnis. Seperti misalnya sikap ‘pokoknya buka dulu‘, bagi entreprener hal tersebut merupakan bondo-nekat yang membuat bisnisnya bisa jalan dan berkembang. Apalagi kalau sudah diukur dari sisi finansial, mungkin konsultan finance akan geleng-geleng kepala karena merasa ‘tidak mungkin’ di atas kertas untuk menjalankan bisnisnya. Namun hal tersebut lah yang menjadi menarik dari seorang entrepreneur, karena mereka lebih bisa melihat peluang di pasar daripada hanya terpaku pada kondisi internalnya.


P1 – PROGRESS



Buka dulu setelah itu baru dibenahi dan dikembangkan‘, hal ini yang seringkali yang menjadi modal kuat bagi entrepreneur dalam menjalankan bisnisnya. Mungkin pada saat membuka bisnis, sistem belum berjalan dengan bagus, namun ada upaya untuk memperbaiki sistem sehingga semakin lama sistem menjadi semakin baik.


Progress dilakukan di segala aspek, produk, sistem, sumber daya manusia, dll. Karena ketika membuka suatu bisnis, maka kalau memiliki jiwa entrepreneur yang dilakukan adalah melakukan proses pembenahan. Kelihatannya di awal tidak terlalu bagus, namun akan menjadi luar biasa ketika semua progress dan semakin tajam. Toh, semua orang juga tidak mengerti ilmu pengetahuan pada awalnya, hanya karena di sekolah guru mengajarkan ilmu pengetahuan, akhirnya orang bisa mengerti tentang pengetahuan dan bagaimana menggunakan pengetahuannya tersebut.


Bagi seorang entrepreneur, bisnis adalah S2 (Sekolah Sesungguhnya) mereka. Yang terpenting adalah melakukan PROGRESS di semua aspek. Toh pada prinsipnya, semua bisnis berasal dari hal yang sederhana.


P2 – PERSISTENT



Pantang menyerah, itu mungkin bisa menggambarkan seorang entreprenuer yang berhasil. Persistent atau Gigih dan Teguh, itulah prinsip bagi seorang entrepreneur. Kolonel Sanders sang empunya KFC juga gigih untuk menawarkan resep nya walaupun ditolak ribuan kali. Kalau Kolonel Sanders tidak persistent, mungkin tidak ada yang bisa merasakan nikmatnya ayam goreng KFC.


Persistent di sini bukan berarti bahwa seorang entrepreneur keras kepala dan tidak mau melihat pasar. Namun yang dia lakukan dengan ke-gigih-annya adalah sebuah proses untuk mengembangkan karakter bisnisnya. Karena tidak mungkin dalam waktu yang singkat orang mengenal suatu brand, butuh komunikasi secara persistent, kemudian menjaga karakter brand secara persistent, sehingga orang memiliki persepsi yang tepat terhadap suatu brand.


Entrepreneurship adalah 2P (Progress & Persistent) bukan 1P (Perfection). Dengan melakukan Progress terus menerus secara Persistent, Perfection akan mengikuti dengan sendirinya. Kalau mengejar Perfection di awal, niscaya tidak akan ada bisnis yang lahir. Kalaupun bisnis tersebut lahir.. mungkin sudah out of date..


 

David Setiawan

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

Kekayaan alam, sumber daya manusia, dan kepulauan menjadi positioning yang baik bagi Indonesia untuk menjadi negara berorientasi ekspor

-Emeritus Professor Lim Chong Yah, Nanyang Technological University-