This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Friday,October 24 2014

Manifesto

Etika Pemasaran: Moral secara Personal

February 01 2012 | By AuLMisbahul
 


Strategi komunikasi pemasaran selalu mengalami perubahan dari jaman-ke jaman. Mulai dari era media konvensional sampai era digital dengan hadirnya beragam bentuk social media. Bentuk pesan komunikasi yang ingin disampaikan juga bervariatif dengan konsep ide yang tidak terduga.


            Istilah buzzer mungkin sudah sering kita dengar di media sosial seperti Twitter. Sebuah istilah bagi seseorang yang menjadi influencer bagi setiap pengikutnya dan didapuk oleh sebuah brand untuk sounding tentang brand campaign yang diusungnya. Tujuan dari sounding itu adalah menciptakan buzz atau percakapan yang mengarah pada tujuan brand campaign namun dikemas lebih halus.


            Orang-orang yang sering didapuk menjadi buzzer biasanya selebritis dengan tingkat kepopuleran yang cukup tinggi di mata masyarakat. Namun, saat ini muncul fenomena baru di dunia per-buzzer­-an dimana beberapa brand mulai mengajak influencer dari kalangan orang biasa namun luar biasa. Mereka adalah Selebritis Twitter (selebtwit). Disebut orang biasa karena mereka memang bukan tokoh atau selebritis, dan menjadi orang luar biasa ketika mereka bermain dengan kata-kata dan dirangkai menjadi sebuah kalimat dalam batas 140 karakter. Sebuah opini, idealisme cara berpikir, atau hanya sebatas ­percakapan ­basa-basi yang mereka share di Twitter ternyata mempengaruhi follower-nya. Mereka memperoleh banyak respon dan menjadikan mereka kebanjiran follower baru. Dan follower yang banyak inilah menjadi salah satu tolak ukur bagi sebuah brand dalam memilih seorang buzzer.


            Menjadi buzzer tidaklah mudah. Seorang buzzer tidak semata-mata menyelipkan informasi mengenai brand campaign di setiap twit dengan sembarangan. Perlu strategi khusus agar jati diri buzzer tersebut tidak berpolemik dengan karakter brand yang di-buzz­­-kan. Pemilihan struktur kalimat dengan batas 140 karakter harus dipikirkan secara cermat agar follower tidak merasa membaca iklan. Kreativitas seorang buzzer tidak boleh mati agar follower tetap loyal dan brand yang mendapuknya tetap royal.


            Masih ingat dengan “Peti Mati”? Campaign yang dilakukan oleh seorang marketer Indonesia untuk meluncurkan buku tentang periklanan. Dia mengirimkan sebuah peti mati dengan berbagai ukuran ke beberapa media massa dan agensi periklanan. Sontak para penerima terkejut dan bertanya-tanya “Siapa yang meninggal?”. Kenapa peti mati? Ternyata judul buku yang akan diluncurkan adalah “Rest in Peace Advertising”. Aksi campaign ini pun mendapat kecaman dari berbagai pihak. Menjadi trending topic di Twitter yang mempertanyakan etika dalam sebuah campaign. Berbagai sudut pandang juga terlontar. Ada yang menganggap campaign itu sangat out of the box dan kreatif, serta ada yang mencibir karena dianggap tidak punya etika. Pasalnya, salah satu penerima peti mati yang kebetulan anaknya sedang dirawat di rumah sakit, tiba-tiba di kantor mendapatkan kiriman peti mati ukuran anak kecil. Coba bayangkan posisi seorang ayah tersebut. Di mana etika pemasaran? Di mana etika sebuah campaign?


            Selanjutnya pada tahun 2011, tepatnya tanggal 28 April 20100 kemarin, sebuah campaign yang di-buzz-kan melalui social media dilakukan oleh sebuah brand telepon seluler, Nokia. Ceritanya brand asal Finlandia ini akan meluncurkan fitur aplikasi “WhatsApp” dengan menggandeng artis cantik Carissa Putri sebagai brand ambassador, berhasil menciptakan buzz yang kontroversial. Carissa Putri dikabarkan hilang beberapa hari. Media komunikasi iklan yang digunakan hampir di berbagai media dan menggunakan search engine marketing, sehingga ketika ­keyword Carissa Putri diketik di Google, maka berita utama yang akan muncul adalah tentang hilangnya dia. Hal ini benar-benar mengalihakan perhatian pembaca dari modus promosi belaka. Para fans sangat khawatir dengan idolanya tersebut. Mereka mencari-cari informasi akan kebenaran berita tersebut. Dan beberapa hari kemudian, muncul tweet dari salah seorang artis juga yang menulis tweet kurang lebih seperti ini: “Mau tau kemana Carissa Putri hilang selama ini? Cek aja di www.nokia.co.id/breakfree”. Link tersebut berupa video iklan Nokia yang menampilan sosok Carissa Putri joget-joget di keramaian orang dan berkata: “Hi, saya Carissa Putri. Saya bukannya menghilang. Begini ceritanya” sambil cengengesan. Fans pun merasa ditipu dan dibodohi. Keresahan orang banyak terbayar dengan fakta bodoh.


            Terbaru adalah aksi buzz yang dilakukan oleh seorang comic Stand up Indonesia, Ernest Prakasa pada 13 Januari yang lalu. Awal tweet­-nya yang di-share kepada ribuan follower-nya mengesankan bahwa dia sedang diculik dan meminta bantuan sama istrinya untuk menyelamatkannya. Spontan reaksi teman-temannya menanggapi serius dan merasa khawatir. Namun, beberapa saat kemudian, Ernest memberikan link video yang menggambarkan keadaan dia dan ternyata benar itu sebatas promosi produk Mini Cooper. Banyak yang menyayangkan aski nge-buzz yang dilakukan Ernest tersebut.


            Permasalahan apa yang bisa kita tangkap dari strategi promosi seperti ini? Jawabannya cuma satu: ETIKA. Tidak dipungkiri media komunikasi telah berevolusi dengan cepat dan tumbuh lebih maju. Namun, setiap marketer seharusnya tidak melupakan suatu tanggung jawab moral yang tertanam hakiki di setiap manusia, yaitu etika. Etika bukan peraturan tertulis yang mengekang kreativitas para marketer dalam menciptakan campaign yang begitu brilian. Tetapi, masalah etika ini lebih kepada tanggung jawab moral secara personal. Masih banyak aksi campaign yang bisa dilakukan tanpa menyangkut unsur-unsur kriminalitas yang akan membahayakan sekali semisal benar-benar ada informasi di Twitter tentang orang diculik, takutnya akan mendapat tanggapan yang tidak serius atau dianggap hanya gurauan saja.


            Selanjutnya, brand perlu memerhatikan apakah strategi campaign yang dilakukan sudah benar atau tidak menurut norma yang berlaku. Kemudian, setiap individu yang didapuk menjadi seorang buzzer juga harus memperhatikan bagaiamana pesan komunikasi yang akan mereka sampaikan mengenai brand tersebut. Semoga tidak ada lagi aksi campaign seperti itu dan setiap marketer perlu menanamkan lebih kuat etika dalam komunikasi pemasaran.


 

AuLMisbahul

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Di industri penerbangan, bila Anda tak bisa jual hari ini, Anda tak bisa menjualnya esok hari. Kesempatan telah pergi"

-Frank Puttmann, Head of Lufthansa Grup Communication Asia-Pacific-