This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Thursday,October 23 2014

Youth StartUp Icon 2013

Farmoo Fruits, Sebuah Tekad Bulat Budidayakan Pepaya California

May 21 2013 | By Hendra Soeprajitno
Rohmat Syahru, Farmoo Fruits


Sebuah ide terkadang terasa menjadi tidak masuk akal karena adanya sebuah opini. Padahal belum tentu ide itu tidak bisa menjadi sebuah kenyataan jika dijalankan dengan benar.

Rasanya itulah yang dilakukan Rohmat Syahru, Pemilik Farmoo Fruits. Pertama kali, pria yang berdomisili di Yogyakarta mendapatkan cemoohan ketika ingin menanam Pepaya California. Kondisi kian memburuk, ketika Rohmat mengalami gagal panen di enam bulan pertama.

Namun dengan tekad yang bulat, kondisi pun berubah. Rohmat bahkan menjadi salah satu trendsetter di antara petani Pepaya California di daerahnya. Lantas seperti apa kisah Rohmat? Pria ini menyampaikan suka dukanya membudidayakan Pepaya California kepada Marketeer dalam rangka audisi Marketeers Youth StartUp Icon 2013:

 

Apa yang menjadi latar belakang dari bisnis yang Anda dirikan?

Lahan pertanian biasanya hanya ditanami padi dalam setahun. Kemudian seorang PPL dari Kecamatan memperkenalkan pada kami sebuah varian baru pepaya bernama "Pepaya California". Saya dan keluarga merupakan perintis penanaman pepaya ini. Di saat tetangga lain meragukan apakah buah ini akan laku atau tidak, kami tetap menanam.

Pada 6 bulan pertama kami gagal panen karena pepaya California terkena virus. Buah membusuk sudah sejak dari pohonnya. Warga pun mulai mencemooh, "Wah.. buahnya busuk ya, Mas? Mending ditebang aja mas, ditanami singkong, hasilnya bisa lebih banyak".

Selama 6 bulan kami mendapat cibiran seperti itu. Alhamdulillah, setelah itu, saat musim kemarau datang, buah kami mulai membaik. Pembeli pun datang silih berganti. Tetangga yang dulu mencemooh kini ikut menanam.

Apa pencapaian yang telah berhasil Anda raih?

Pencapaian yang sudah didapat ialah kini warga di Desa Karanggude Kulon, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Jawa Tengah sudah mulai menanam. Pendapatan warga pun membaik karena pepaya California bisa dipetik setiap seminggu sekali, tidak seperti padi dan singkong yang harus menunggu lama sampai dipanen.

Pasar kami saat ini meliputi daerah lokal yaitu Purwokerto, Ajibarang, Brebes, dan Tegal. Pernah beberapa kali juga mengirim ke Jakarta. Saat ini permintaan dari luar kota seperti Bandung, Jakarta, dan Bali kami tolak karena kurangnya kapasitas produksi.

Apa yang sudah Anda lakukan bagi masyarakat sekitar Anda?

Saat ini kami sedang mengajak warga di sekitar desa untuk ikut menanam pepaya. Hasil dari budidaya pepaya cukup menjanjikan. Permintaan dan harga jualnya pun terus melonjak. Saat ini penanaman pepaya di desa kami semakin meningkat. Warga yang biasanya menjadi buruh di kota pun bisa fokus bertani karena pendapatan dari budidaya pepaya California sudah cukup untuk keperluan sehari-hari, bahkan bisa untuk ditabung.

Apa yang menjadi motivasi Anda dalam mengikuti Marketeers Youth StartUp Icon 2013?

Saya ingin sekali memperkenalkan pada masyarakat yang lebih luas lagi mengenai potensi budidaya pepaya California ini, apalagi di daerah Purwokerto dan Banyumas, di mana tanah di lereng Gunung Slamet ini begitu subur. Sayang kalau cuma ditanami singkong atau padi yang kadang dibeli dengan sistem ijon sehingga petani merugi.

Saya juga ingin mengajak warga yang bukan petani, yang tidak memiliki lahan untuk tetap dapat mengolah pepaya California. Caranya dengan mengolah pepaya menjadi bahan makanan olahan, entah itu manisan, selai, atau keripik. Sehingga tidak hanya petani yang untung, melainkan warga yang tidak punya tanah pun bisa mendapat manfaat dan memperoleh keuntungan.

Selain itu, pepaya California juga merupakan buah asli dalam negeri, hasil pemuliaan dari IPB. Jadi ini merupakan kewajiban kita untuk membudidayakannya dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai kalah dari pepaya impor dari Thailand dan Malaysia.

Apabila warga di desa sudah mendapat penghasilan yang baik dari bertani, maka warga tidak perlu merantau ke kota, apalagi Jakarta. Dengan begini, pembangunan pun akan berorientasi ke desa. Tidak melulu di kota.

Hendra Soeprajitno

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Salesman yang baik adalah yang telinganya gede, artinya mau mendengarkan konsumen"

-Suparno Djasmin, CEO PT Astra International Tbk- Daihatsu Sales Operation-