This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Thursday,April 24 2014

News

Fungsi Follow/Unfollow Pada Pengguna Twitter di Indonesia

November 19 2010 | By Abang Edwin SA
Untuk kesekian kali saya mendapatkan message di Twitter yang ditujukan pada saya:
Halo mas @bangwinissimo salam kenal and follow back dong :-)

Dengan menulis blogpost ini saya tidak akan protes atau apapun, tapi lebih pada mempertanyakan dan mencoba sedikit menganalisa alasan kenapa urusan follow/unfollow semakin lama menjadi semacam ajang pencapaian level tertentu pada Twitterverse kita, terutama pada pengguna yang berbahasa Indonesia.

Masih ingat Friendster? Sebuah produk yang bisa disebut sebagai pionir dalam dunia social media. Friendster ini lah yang memperkenalkan kita semua pada sistematika engagement khas ala social media dengan fungsi testimonial, dimana kita bisa memberikan testimoni kita terhadap teman kita. Fungsi ini lah yang menjadi "candu" buat pengguna Friendster pada saat itu. Banyaknya teman plus testimoni, membuat pengguna Friendster pada saat itu merasa bertambah gengsinya, sehingga permintaan testimoni pun menjadi salah satu ukuran "coolness" bagi para pemilik account Friendster.

Pada saat ini, sejarah terulang pada Twitter, sebuah produk microblogging yang sedang naik daun. Banyak pengguna twitter memfollow serta minta di follow balik seolah-olah memiliki follower yang banyak itu menjadi tanda kesuksesan dan sebuah pencapaian yang bisa dibanggakan.

Bila kita kembali pada fungsi follow/unfollow yang ada pada Twitter ini, maka ada baiknya kita mempertanyakan kembali pada diri kita, apa yang ingin kita capai dengan kita mem follow seseorang lalu mengapa kita memutuskan meng unfollow seseorang.

Bagaimana dengan saya?

  • Saya mem follow seseorang pada karena saya tertarik dengan apa yang sering di-share oleh orang tersebut, dan biasanya orang-orang yang saya follow di Twitter adalah orang-orang yang memiliki kesamaan interest dengan saya.

  • Saya meng unfollow seseorang biasanya karena sesederhana saya tidak mendapatkan lagi apa yang saya ingin dapatkan dari orang tersebut (nothing personal)


Jadi alasan saya mem follow/unfollow seseorang di Twitter benar-benar datang dari perspektif saya. Oleh karena itu bila ada orang lain memfollow saya lalu mereka meminta saya mem-follow back mereka, saya jadi bingung. Karena menurut saya harus ada alasan yang baik buat saya untuk mem follow seseorang di Twitter dan being followed itu bukan alasan yang baik untuk mem follow back kalau buat saya.

Bagaimana dengan Anda?

Tulisan ini bisa Anda baca juga di Socialissimo.info

Sumber ilustrasi: http://www.blindfiveyearold.com

Abang Edwin SA

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Kuncinya, Introspeksi. Harus menerima kritikan orang lain. Ketika kita menutup telinga pada kritikan, itulah akhir dari segalanya"

-Wulan Tilaar, Vice Chairman Martha Tilaar Group-