This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Friday,October 24 2014

Case Studies

Hari Bumi: Saatnya Bisnis Peduli pada Planet

April 23 2011 | By Sigit Kurniawan
Kemarin, Jumat (22/04), dunia memperingati Hari Bumi. Banyak pihak, dari masyarakat biasa, aktivis lingkungan, komunitas sekolah, perusahaan, sampai pemerintah memperingatinya dengan cara beragam. Meski caranya beragam, tapi pesannya sama, yakni saatnya mencintai, peduli, dan menyelamatkan bumi. Maklum, bumi tampak kian renta dan rapuh. Udara kian panas, cuaca tidak menentu, aneka badai menerjang, banjir bandang, dan sebagainya.

Menurut Wikipedia, Hari Bumi ini sudah lama dicanangkan oleh seorang Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970. Hari Bumi diperingati setiap 22 April—tanggal ini bertepatan dengan musim gugur di Northern Hemisphere di utara dan musim gugur di belahan bumi selatan.  PBB juga mencanangkan Hari Bumi pada 20 Maret— tradisi yang dipopulerkan oleh John McConnel pada tahun 1969. Hari itu, konon katanya, hari di mana matahari tepat berada di atas katulistiwa.

Kepedulian pada bumi juga tak sekadar menjadi kepedulian para aktivisi lingkungan. Sekarang, gerakan mencintai lingkungan menjadi gerakan yang dilakukan oleh beberapa pelaku bisnis. Buku Marketing 3.0 yang ditulis Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan menandaskan untuk berkelanjutan, bisnis sekarang ini kudu mempedulikan people dan planet selain tentu mengejar profit. Bahkan, profit bisa direngkuh kalau perusahaan peduli pada people dan planet. Pasalnya, sekarang, konsumen akan mencari perusahaan yang peduli dengan hidup mereka—entah kesehatan, hidup sosial, dan sebagainya—dan juga peduli pada alam—pelestarian alam dan sebagainya. Bahasan ini pernah saya tulis dalam blog ini juga dengan judul “Saatnya Marketing Berdamai dengan Alam” dan “Al Gore dan Marketing 3.0”.

Mungkin ini sebuah kebetulan. Kemarin, saya merayakan misa Jumat Agung—pengenangan kematian Yesus Kristus. Saya memang seorang Katolik. Tidak berniat menyempitkan arti “salib” dan tidak berniat pula menyempitkan maksud “marketing 3.0”. Salib bagi orang Kristen adalah simbol keselamatan. Saya melihat pesan keselamatan salib ini cocok dengan pesan marketing 3.0. Palang horisontal dalam salib tadi adalah  simbol kepedulian pada people. Sedangkan, palang vertikal dalam salib tadi simbol kepedulian pada langit (vertikal ke atas) dan bumi (vertikal ke bawah).  Gabungan keduanya adalah salib, simbol keselamatan. Nah, pas sekali, bisnis yang peduli pada people dan planet itulah yang akan selamat (sustainable).

Marketing 3.0 tidak lain adalah praktik bisnis yang mengedepankan nilai-nilai dan human spirit. Sejarah telah membuktikan banyak perusahaan besar ambruk gara-gara tidak memedulikan lagi nilai-nilai tersebut. Ada Enron, Lehman Brothers, Wall Street, dan sebagainya. Ke depannya, hanya bisnis yang peduli pada people dan planet-lah yang akan sustainable karena orang-orang sekarang semakin cerdas dan berelasi secara transparan serta mencari perusahaan-perusahaan yang tidak merusak kehidupan dan lingkungan.

Selamat mencintai bumi, selamat mencintai bisnis Anda!

*Ilustrasi dari http://www.earthtimes.org/going-green/a-billion-acts-green-earth-day-2011/371/

Sigit Kurniawan

Writer, Journalist, Free Thinker. Twitter: @sigit_kurniawan

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Salesman yang baik adalah yang telinganya gede, artinya mau mendengarkan konsumen"

-Suparno Djasmin, CEO PT Astra International Tbk- Daihatsu Sales Operation-