This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Monday,October 20 2014

Trends & Observations

Industri Properti Booming di Tahun 2014

August 02 2011 | By Sigit Kurniawan

 

 

 

 

 

 

 

 

Properti menjadi industri yang tidak bakal mati. Dari tahun ke tahun akan terus tumbuh seiring dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Apalagi Perekonomian Indonesia kian membaik dan situasi politik tetap stabil. Demikian kata Panangian Simanungkalit, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI),  kepada Marketeers di kantornya di Jakarta, Senin (01/08).

Menurut Panangian, tren kenaikan bisnis properti pada tahun 2012 dan bakal  booming pada 2014  didukung oleh pertumbuhan di beberapa lini. Selain ekonomi yang membaik dan demand masyarakat yang besar, kenaikan ini juga didukung oleh kenaikan properti dari kredit bank yang disinyalir akan tumbuh 18 sampai 22 persen. "Bank semakin percaya diri mengeluarkan KPR, sementara kebutuhan masyarakat khususnya kebutuhan akan tempat tinggal juga besar. Perumahan tetap menjadi penyokong terbesar dari industri ini, disusul dengan kebutuhan akan perkantoran," kata Panangian.

Selain itu, harga- harga tanah, sambung Panangian, di lokasi strategis akan naik dengan angka rata-rata tujuh sampai 15 persen. Harga tanah dipastikan tidak bakal turun. Harga-harga properti di lokasi strategis juga naik sekitar tujuh sampai 20 persen. Bisnis perumahan dan townhouse di tengah kota bakal bertumbuh 12 persen. Bisnis ruko, rukan, dan apartemen di lokasi strategis akan tumbuh 10 sampai 15 persen. Sementara, bisnis perkantoran dan hotel tumbuh 10 sampai 12 persen. Dan, bisnis mal dan trade center akan meningkat lima sampai tujuh persen. "Semua yang terkait di properti  akan tumbuh, meskipun tidak ada sesuatu yan istimewa di tahun- tahun ini," cetus pendiri Panangian School of Property ini.

Sekali lagi, situasi ekonomi yang terus membaik dan didukung stabilitas politik, kata Panangian, menjadi faktor utama pertumbuhan industri properti dan industrinyang lain. Menurutnya, inflasi sebesar enam persen akan bisa ditekan pada tahun 2012 menjadi 5,8 persen. BI Rate akan stabil dari tahun ini sampai tahun depan sebesar 6,75 persen. Sementara, suku bunga KPR juga stabil di kisaran 11, 5 persen. Pertumbuhan ekonomi meningkat dari 6,4 persen menjadi 6,9 persen di tahun 2012.

"Karena daya beli konsumen naik rata-rata 10 persen dengan dukungan suku bunga KPR yang sedang rendah dan stabil, industri properti terus berkembang. Apalagi ada kemungkinan investor asing akan masuk ke pasar properti Komersial di Indonesia, seperti halnya China," imbuh Panangian.

Sebagai pengamat properti, Panangian optimistis properti akan menjadi bisnis yang paling bagus di Indonesia. Alasannya, lantaran sebagai investasi, orang-orang kaya lebih percaya pada aset properti daripada aset keuangan, seperti saham, obligasi, dan reksadana. Semenjak terjadi kasus saham global ambruk, sambung Panangian, para investor pun mulI menghindari pembelian saham. Sementara itu, kekayaan dari 80 persen rumah tinggal berasal dari properti dan bukan dari saham, reksadana, maupun obligasi. "Investasi properti merupakan sarana peringkat satu untuk membangun kekayaan di Indonesia. Ada 60 persen pembelian properti selama 10 tahun terkahir. Ini yang menjadi tujuan investasi," kata Panangian.

Panangian mengatakan industri yang mempunyai risiko investasi paling rendah  adalah industri properti. Bagi Panangian, rumus investasi yang menunjukkan minimnya risiko ini adala “high return – low risk, highest return – no risk.”

Bila dibandingkan dengan prospek bisnis properti di luar negeri, menurut Panangian, tren di Indonesia tergolong unik. Di Indonesia, misalnya, pertumbuhan penduduk dan ekonominya tinggi. Sementara, harga properti selalu naik walaupun pasar oversupply.  Di pasar luar negeri, yang terjadi sebaliknya. Saat pertumbuhan penduduk dan ekonomi rendah, harga properti biasa turun saat pasar oversupply.  Misalnya, di Amerika, China, Australia, Singapura, dan Malaysia, turunnya  harga properti sudah biasa.

“Di luar negeri, nilai bangunan bisa mengalami penurunan dan bahkan dalam skala tinggi karena faktor cuaca dan tingkat kenaikan harga bangunan yang rendah. Sementara di Indonesia, penurunan nilai bangunan hampir bisa diabaikan karena harga-harga bahan bangunan selalu naik 10 persen setiap tahunnya,” kata Panganian.

Keunikan yang lain, di luar negeri, pasar perumahan untuk kelas bawah sepenuhnya dilayani oleh pemerintah sehingga tertutup bagi investor dan pengembang. Di Indonesia, semua segmen pasar perumahan termasuk kelas  paling bawah terbuka luas bagi investor dan pengembang.  “Indonesia mempunyai kelebihan  yakni membuka bagi semua orang, bukan hanya bagi swasta besar, bagi pengembangan properti. Jumlah penduduk tinggi, tapi pemerintah tidak mempunyai kemampuan untuk men-supply. Pasar di luar negeri, hampir semua pemerintahnya mempunyai aturan untuk menguasai hampir semua hal terkait properti. Harga dikontrol ketat. Di sini, mana ada, semua dimakan spekulan ,” kata Panangian.

Menurut Panganian, hal disebabkan bukan sekadar persoalan Undang-undang Pertanahan yang ada tapi juga soal perilaku sebagai orang yang sedang mengenal kekayaan. “Tanah menjadi barang yang dikejar-kejar. Sementara, hukum tanah tidak kuat. Akibatnya, sengketa tanah terjadi di mana-mana. Namun, demand-nya kuat sekali sehingga tetap terus tumbuh dan high cost,” kata Panangian.

Sigit Kurniawan

Writer, Journalist, Free Thinker. Twitter: @sigit_kurniawan

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Semangat kami adalah tumbuh bersama customer. Bila mereka tumbuh, kami pun secara otomatis akan tumbuh"

-Margono Tanuwijaya, Marketing Director PT Astra Honda Motor-