This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Saturday,November 01 2014

Message

Jokowi dan Marketing

October 15 2012 | By
Oleh Hermawan Kartajaya, CEO dan Founder MarkPlus, Inc

Satu lagi Marketer of the Year yang dinobatkan di panggung akbar tahunan The MarkPlus Conference mendapatkan kepercayaan menjadi pejabat publik.  Pada Juni 2010 lalu, Marketer of the Year 2007 Chairul Tanjung mendapat kepercayaan sebagai Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN).

Selanjutnya, Oktober 2011, Marketer of the Year 2010 Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan masuk dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua. Bersamaan pada waktu itu pula, Marketer of the Year kategori Government & Public Services 2009, Sapta Nirwandar juga ditunjuk sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Yang paling gres adalah, Marketer of the Year kategori Government & Public Services 2010, Joko Widodo yang dilantik sebagai Gubernur / Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta periode 2012-2017 pada Oktober 2012 ini.

Pemilihan Marketer of the Year, yang diselenggarakan MarkPlus Inc setiap tahun memang unik. Setelah menerima nominasi secara terbuka dari yang dikategorikan menjadi enam sektor, yaitu FSI (Financial Service Industry), ATL (Automotive, Transportation & Logistic), CHM (Communications, High Tech & Media), HPC (Healthcare, Pharmaceutical & Consumer), RES (Resources & Utilities), dan GPS (Government & Public Services), kami lantas berunding untuk menetapkan tiga nominasi per kategori. Penentuan pemenang pada tahap akhir dilakukan untuk membahas juara tiap kategori, yang salah satunya akan menjadi juara umum.

Kami selalu mengundang juara umum dari tahun-tahun sebelumnya bersama pimpinan Indonesia Marketing Association (IMA), sebagai organisasi profesi pemasaran untuk bersama-sama membahas para kandidat nominasi. Tahun lalu, ketua dewan juri adalah Dahlan Iskan, yang akhirnya menentukan Johanes Loman, Wakil Direktur Utama PT Astra Honda Motor sebagai juara umum 2011.

 

@ Jokowi dan Dahlan Iskan

Saya bertemu  Jokowi secara pribadi ketika mantan Walikota Solo ini datang ke acara awarding MarkPlus Conference 2010 di Pacific Place, Jakarta. Kala itu, Jokowi datang pakai jas gelap -bukan baju kotak-kotak-, sendirian tanpa ditemani ajudan.

Karena datangnya kepagian, beliau diantar masuk ke ruang VIP. Di situ Pak Dahlan juga akan menerima “awarding”- nya. Jokowi sebagai juara kategori Government & Public Services. Sedangkan Pak Dahlan sebagai Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) keluar sebagai juara kategori Resources & Utilities, sekaligus juara umum. Sesudah itu, datanglah Pak Chairul Tanjung sebagai Ketua Dewan Juri 2010 ikut bergabung.

Waktu itu saya masih ingat ketika Pak Dahlan Iskan memberikan sebuah pertanyaan yang mengejutkan orang-orang yang ada di ruangan VIP kepada Jokowi. "Apakah bapak sebagai Walikota masih rukun dengan wakilnya ?" kata Dahlan.

Kala itu, memang mulai banyak pasangan kepala daerah yang “bercerai” atau “pisah ranjang” setelah setahun bahkan enam bulan menjabat. Ketika semua orang menunggu jawaban Jokowi, ternyata beliau malah ganti bertanya sambil ketawa. "Ini tanyanya sebagai Dirut PLN atau Bos Jawa Pos?" kata Jokowi.

"Wah sebagai apa saja. Kan saya sudah gak ngurusi Jawa Pos lagi. Saya cuma kepengen tau aja. Karena banyak pasangan Kepala Daerah yang pisah di tengah jalan?"  jawab Dahlan.

"Oh gitu. Kalau begitu, ya, jawaban saya biasa-biasa aja. Selama ini, saya baik-baik saja dengan Wakil saya. Mudah-mudahan Solo tidak mengalami seperti daerah lain," kata Jokowi. Pak Dahlan pun menjawab, "Syukurlah kalau begitu, saya ikut senang. Semoga terus begitu." Itulah percakapan singkat antar dua orang yang banyak dianggap punya gaya santai dalam berbicara dan memimpin. Hanya bedanya, yang satu orang Solo jadi sangat halus. Sedangkan yang satu lagi orang Surabaya yang straight forward.

Pada Rapat Dewan Juri tahun 2010, pak Chairul Tanjung memang sangat terkesan melihat bagaimana pak Dahlan Iskan dan Jokowi me-marketing-kan PLN dan Solo. Dua-duanya adalah pekerjaan yang susah dan tidak gampang. Solo bukanlah perusahaan, melainkan sebuah kota dan di dekatnya ada Pesantren Ngruki, yang terkenal. Sedangkan PLN adalah perusahaan, sekaligus BUMN yang wajah institusi-nya masih sangat kuat.

Tapi walaupun sama-sama mengemban tugas yang berat, kedua orang ini berhasil membuat brand image Solo dan PLN berubah. Solo yang semula terkesan lamban dan agak seram berubah menjadi lincah dan kreatif. Bayangkan, Pak Jokowi bisa menggelar 40 festival dengan APBD senilai Rp 5 miliar saja. Sisanya memanfaatkan swadaya masyarakat.

Sementara PLN yang terkesan statis dan birokratis berganti wajah menjadi perusahaan yang  dinamis dan pragmatis. Pak Dahlan pernah menjalankan program Sehari Satu Juta Sambungan.

Keduanya adalah pekerjaan yang sulit. Namun, kedua Marketer of the Year 2010 ini sudah menjadi Gubernur DKI dan Menteri Negara BUMN. Satu hal yang menarik, sehari begitu Jokowi dinyatakan menang versi hitungan cepat berbagai lembaga survei, langsung aja Pak Dahlan memberi lima proyek pembangunan infrastruktur BUMN di DKI Jakarta guna memecahkan masalah kemacetan.

Tantangan ini bahkan dilontarkan sebelum ada pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta. Begitulah jika dua jagoan marketer bertemu!

@Jokowi dan Solo

Setelah Pak Jokowi mendapatkan Marketer of the Year kategori Government & Public Services, saya pernah sempat diudang makan malam di rumah dinas Walikota Solo. Di tempat itu terdapat kamar yang dulu pernah ditinggali Bung Karno.

Kala itu, Pak Jokowi baru saja selesai mengikuti pertandingan pertama kompetisi Liga Premier Indonesia (LPI) di Stadion Manahan bersama Pak Arifin Panigoro. Ketika saya tanya apakah memang suka sepakbola? Dia menjawab, "Sebenarnya, ya, tidak terlalu ngerti sepakbola.Tapi mumpung, pertandingan pertama LPI mau dilangsungkan di Solo, ya, saya sangat senang. Supaya kota saya jadi tersorot gratis di TV."

Itulah yang namanya Place Marketing secara murah. Sepanjang makan malam, Pak Jokowi lantas bilang bahwa dia suka membaca buku Marketing, termasuk buku saya. "Solo, saya anggap sebuah produk yang harus dipasarkan," katanya.

Jokowi mengatakan bahwa memindahkan pedagang di pasar dengan senang, rumusnya adalah,"Saya undang makan aja ke rumah saya. Saban hari sampai 30 kali. Baru saya pindahkan," katanya.  Padahal di tempat baru yang lebih bersih dan teratur, mereka malah harus mulai bayar retribusi.

Namun, Pemkot Solo harus investasi terlebih dulu. Membangun fasilitasnya duluan, memberikan seragam, bahkan memasang iklan supaya banyak orang tahu dan berkenan datang. "Jadi sebenarnya seperti bisnis. Investasi dulu, return belakangan," ujar Jokowi.

Pemkot Solo malah kewalahan karena permintaan untuk pindah ke pasar sangat banyak. Padahal, APBD Solo terbilang terbatas. “Jadi tidak bisa memenuhi semuanya. Pelan-pelan," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan kepada saya bahwa beliau juga memperbaiki sistem birokrasi, seperti membenahi pelayanan surat menyurat, memperpendek proses sehingga warga kota yang tidak mampu pun jadi mudah terlayani. Selain itu, Jokowi juga melakukan pembenahan kawasan Langen Bogan, yang menjadi tempat kuliner di malam hari. Sedangkan festival-festival sengaja dibuat banyak supaya rakyat Solo jadi makin kreatif karena memiliki wadah, sekaligus menarik minat para turis.

Festival juga dipakai sebagai usaha recovery citra, terutama jika ada berita tentang aksi Densus 88 yang baru melakukan aksinya di Solo. Itulah cerita seorang Jokowi yang kemudian datang ke Jakarta.

Paling tidak, saya melihat ada lima hal yang terlihat dalam strateginya di Pilkada. Pertama, prinsip low budget high impact dengan mengundang partisipasi simpatisan sama seperti penyelenggaraan festival-festival di Solo.

Kedua, inilah pelaksanaan New Wave Marketing yang horizontal, inklusif dan sosial. Jokowi berani berpasangan dengan Ahok, dan tidak melakukan kampanye masal, melainkan dengan blusukan masuk kampung. Itulah yang memang dia lakukan di Solo bersama wakilnya, FX Hadi Rudyanto.

Ketiga, melakukan pendekatan pada youth, women, netizen (YWN) dengan merangkul band Slank, ibu-ibu di pasar hingga para blogger. Di Solo, pendekatan ini secara tidak langsung juga terjadi dalam skala kecil.

Keempat, lebih mengandalkan heart-share, ketimbang mind-share untuk memenangkan market share. Acara makan bersama di Solo juga dilakukan Jokowi ketika berkeliling.

Kelima, ini yang mungkin tidak pernah dibicarakan orang. Gaya 'ndeso jowo'-nya mengingatkan orang pada sosok Tukul, yang juga sukses cukup lama di segala lapisan masyarakat Indonesia. Ini sesuai dengan Marketing 3.0, yang menggeser fokus dari product ke customer ke human spirit.

@Fauzi Bowo dan Jakarta

Saya sendiri masih ber-KTP Surabaya sehingga tidak punya hak pilih pada Pilkada Jakarta. Waktu Pilkada berlangsung, saya berada di Resor Manohara di kompleks Borobudur, Magelang untuk bicara di Greenpreneurship International Conference.

Karena itu, saya hanya bisa menyaksikan hitung cepat lewat layar televisi di Royal Ambarukmo Hotel Jogjakarta, sebelum akhirnya berangkat ke bandara Adisucipto. Saya sangat bangga dan terharu kala mengetahui bahwa Pak Fauzi Bowo ternyata berkenan menelpon Jokowi untuk mengucapkan selamat ketika hitung cepat sudah mendekati 90%. Wow ! Gentleman, ksatria dan fair !

Saya mengenal Foke pribadi sejak beliau jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Bahkan saya pernah diminta untuk membuat workshop dua hari "Marketing Jakarta to the World" untuk para birokrat DKI Jakarta. Saya juga sering membantu me-marketing-kan Jakarta dengan selalu memberikan booth gratis di acara akbar tahunan The MarkPlus Conference, yang dihadiri ribuan orang.

Foke –panggilan akrab Fauzii Bowo- pun pernah hadir di MarkPlus Conference dua kali dan meng-host Jakarta CMO Club di City Hall. Saya pun sudah berkali-kali menjadi juri Abang None Jakarta.

Karenanya, saya tahu persis bahwa Budaya Betawi itu adalah kombinasi antara Islam, Chinese dan Eropa. Lihat aja corak Kebaya Encim yang dipakai para None, dan baju Koko yang dipakai para Abang. Begitu juga juga dengan makanan khas Betawi, serta bahasa yang dipakai 'lu gua' dan 'cepek gopek' dalam kehidupan sehari-hari.

Orang Betawi itu punya sifat terbuka terhadap orang luar, karena Batavia memang menjadi plural dari sononya. Di DKI pun sudah lama ada pemilihan Koko Cici Jakarta, yang pasti tidak ada di kota manapun di Indonesia.

Pak Foke - alumni Kanisius dan doktor dari Jerman- tapi pernah menjadi Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Jakarta adalah sosok orang Betawi yang intelektual dan sekaligus internasional. Karenanya, saya selalu membantah keras jika ada orang yang mengatakan bahwa pak Foke suka membedakan orang berdasarkan etnis dan agama.

Sewaktu pernah saya undang menjadi pembicara di Konferensi Indonesia-Singapore di Singapura, Pak Foke bertanya dulu pada para pengusaha Singapura di Jakarta. "Supaya saya tahu permasalahan mereka. Itu Marketing kan?" katanya. Selama 30 tahun jadi birokrat di Jakarta, Pak Foke merambat dari bawah sampai ke atas. Itulah kenapa Jokowi mengatakan akan bertanya pada Foke. “Karena beliau yang tahu birokrasi dan lapangan di Jakarta,” katanya pada wartawan setelah meminta maaf pada Foke karena "ngerepoti".

Pilkada memang sudah selesai dan yang menang adalah seluruh orang Jakarta.Termasuk Pak Jokowi yang bakal punya tugas berat dan Pak Foke yang negarawan. Saya melihat bahwa di kampanye, Pak Foke, ya memang menjadi dirinya sendiri, tanpa berusaha dipoles-poles. Orang Betawi yang intelek, tegas , jelas dan akhirnya gentleman ! Mudah-mudahan beliau bisa diangkat jadi sesepuh-nya orang Betawi sehingga bisa ikut membangun Jakarta bersama Pak Jokowi.

Saya masih ingat kata-kata beliau kepada saya. "Pak Hermawan-kan orang Surabaya. Tapi hidup dan makan di Jakarta. Karena itu, tolong bantu Jakarta, ya." Saya pun menjawab, “Siap Bang Foke!”

@Talk and Walk

Saya pun selalu siap juga untuk mendukung Bang Joko! Sebagai Marketer sejati , inilah saatnya beliau bekerja keras untuk merealisasikan Jakarta Baru yang dijanjikan. Marketing itu, sederhana kok. Setelah "Talk the Walk", inilah saatnya "Walk the Talk".

Selamat bekerja keras Pak Jokowi-Basuki. Untuk Jakarta tersayang, untuk Indonesia tercinta!

writer, blogger, journalist, social media lover

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Sales harus bisa memosisikan diri sejajar dengan konsumennya. Kalau rasa minder masih besar, tentu akan sulit"

-Djonnie Rahmat, Presdir PT Mabua Harley Davidson-