Loman: Kami Selalu Mengusung Improvement!
Prestasi Honda kembali menjadi pemain dominan di pasar sepeda motor di Indonesia tidak lepas dari tangan dingin Johannes Loman, Executive Vice President Director AHM. Di tangan Loman, Honda bisa kembali ke posisi tersebut. Loman berhasil membangun kembali pondasi kokoh di Honda, membangkitkan motivasi kepada seluruh karyawannya, mendorong untuk berubah dan menyesuaikan zaman, dan sebagainya. Selain itu, Loman menelorkan kampanye “One Heart” sebagai jurus “menghidupkan kembali” Honda menjadi merek yang digandrungi banyak orang khususnya kaum muda. “One Heart” menjadikan Honda lebih trendi dan dekat dengan pelanggannya. Bagi Loman yang low profile, kunci suksesnya bukanlah dengan teori marketing yang mulukmuluk. Katanya merendah, “ramuan yang tepat” itulah kuncinya. Seperti apa? Berikut adalah wawancara dengan Johannes Loman, Marketer of the Year 2011, yang sebelum menjadi Marketing Director AHM dan Executive Vice President Director AHM adalah Marketing Director Astra Daihatsu Motor (ADM):
Bagaimana pengalaman di Daihatsu bila dibanding di Honda?
Kalau di motor, kami mempunyai jaringan sangat luas, ribuan. Hal ini tentu pengarahannya lebih sulit kalau dibandingkan di industri mobil. Di mobil, kompetisinya tidak begitu kelihatan. Beda dengan di motor karena oligipoli. Paling Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki. Di mobil, banyak sekali mereknya. Pergerakan di industri lebih kelihatan.
Bisa diceritakan masa-masa awal penugasan ke AHM?
Waktu itu, almarhum pak Michael Ruslim meminta saya untuk ke AHM. Saya awalnya berpikir sudah tua, kok, masih disuruh “berperang”. Waktu itu, pak Michael dan pak Prijono menunjuk saya karena katanya tidak ada orang lain. “Mesti kamu yang harus bantuin kita karena tidak ada orang lagi” begitu kata pak Michael.
Saat itu, pemikiran saya sederhana saja. AHM sudah menjadi perusahaan yang cukup besar. Besar dalam arti dari sisi jumlah karyawan, vendors, maupun jaringan—bisa mencapai setengah juta orang. Jumlah ini belum dengan keluarga dan sebagainya. Sebab itu, kalau AHM ini bermasalah, pasti yang kena dampaknya adalah banyak orang.
Awalnya, saya melakukan pembenahan yang ada. Dari proses panjang ini, buah atau hasilnya baru bisa kelihatan di tahun-tahun belakangan. Pada tahun lalu, hasilnya sebenarnya sudah terlihat. Memang proses ini membutuhkan waktu. Apa saat itu AHM sempat mengalami krisis saat itu? Kalau market share kami berbeda cuma 0.9 persen saat itu. (sambil menunjukkan datadata dari AISI). Pada tahun 2009, kami selisih 0,9 dengan kompetitor terdekat. Kami 46,2 sementara Yamaha 45,3 di tahun 2010. Pada tahun 2011, kami meraih 12,1. Karena di sini, kami ketinggalan di skuternya, angka jadi besar. Namun, sekarang segmen skuter kami sudah sangat strong. Kami selalu mempertahankan tipe bebeknya. Di sini, yang awalnya hanya berkontribusi 20-30 persen, sekarang sudah 51 persen.
Kalau dilihat dari situasi pasar saat masa awal penugasan yang ditandai dengan demam skutik, bagaimana Honda melihat konsumen dan juga kompetitor saat itu?
Kami melihat skutik yang tadinya kontribusinya kecil, kemudian membesar. Kami sadar di skutik kami ketinggalan. Kami kebut dari ketinggalan ini. Kami kebut dengan Beat yang disertai lagu, peningkatan kapasitas pabrik, dan sebagainya. Termasuk mengubah pemikiran para penjual yang mana jual skutik dan jual motor bebek itu membutuhkan cara yang berbeda. Bagaimana kalau diubah di mana Honda menjadi pioner dalam motor skutik? Begini, sebenarnya skutik itu itu demandnya ada di-create. Sementara yang create itu kompetitor yang duluan. Waktu itu, kami tidak memikirkan untuk meng-create itu. Kalau Honda create duluan, mungkin ceritanya berbeda. Saya berada di sini di mana skutik sudah di-create oleh kompetitor lebih dulu. Saya harus mengatasi hal tersebut.
*Wawancara lengkap bisa disimak di Majalah Marketeers edisi Januari 2012. Untuk mendapatkannya bisa klik tautan ini.




















