Kampanye Politik Boros dan Tak Efektif
Kampanye politik yang digelar oleh partai-partai selama Pilkada dianggap tidak efektif, efisien, dan buang-buang duit. Hal ini dikarenakan salah kaprah memahami kampanye politik. Tidak ada korelasi langsung antara baliho-baliho kampanye politik yang bertebaran dijalan dengan awareness masyarakat tanpa didukung oleh reputasi. Demikian kata konsultan PR Silih Agung Wasesa dalam seminar Korupsi Pilkada di Kampus Paramadina Jakarta, Selasa (14/02/2012).
Silih membandingkan kampanye politik dengan kampanye merek-merek komersial. Bagi Silih, merek-merek sosial sekatang ini lebih cerdas dalam membuat kampanye yang efektif dan efisien dengan bujet yang tidak besar. “Seharusnya partai politik lebih disukai karena idealnya mereka memiliki tugas untuk kepentingan orang banyak ketimbang merek-merek komersial. Tapi, merek-merek komersial lebih disukai dan berhasil. Merek-merek komersial justru mampu mendidik pub lik soal efisiensi kampanye. Sementara, orang politik memboroskan dana untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu biaya,” kata penulis buku “Political Branding and Public Relations” itu.
Silih juga menyayangkan hegemoni kampanye politik boros tadi juga didukung oleh konsultan-konsultan politik yang memang mencari duit di sana. Termasuk juga didukung oleh media-media yang mendapat keuntungan di sana. Selain itu, Silih juga menyinggung peran-peran artis atau selebriti sebagai vote gather yang cukup berpengaruh. “Saya jamin kalau pola-pola kampanye komersial masuk ke kamoanye politik, kampanye akan lebih murah. Politisi bisa belajar dari pelaku merek komersial untuk belajar memahami pasar yang berubah, termasuk melihat warna dominan yang diminati oleh komunitas tersebut” kata Silih.





















