This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Wednesday,April 23 2014

Youth StartUp Icon 2013

Kerupuk Kulit Sapi Gurih Pedas Produksi SAPILADA SNACK

May 21 2013 | By Jaka Perdana


Usahanya diawali dengan meracik. Produk lain yang dianggapnya kurang berasa, ia tambahkan rasa. Lalu ia jual dengan kemasan menarik dengan distribusi serta cakupan luas. Produknya yang kian dikenali menarik banyak investor datang. Shandy Sanjaya sang pemilik usaha makanan ringan berupa kerupuk kulit rambak bernama SAPILADA SNACK ini tidak berhenti sampai di situ saja. Ia terus berinovasi dengan menambah varian produknya, termasuk produk-produk khusus organik. Inilah penuturan Shandy kepada Marketeers mengenai SAPILADA SNACK, serta merupakan bagian audisi Youth StartUp Icon 2013.

Bagaimana latar belakang usaha Anda serta pencapaian yang telah dicapai?

Ide berjualan makanan ringan datang di pertengahan tahun 2010. Bermodalkan Rp200.000, saya membeli keripik singkong pedas kiloan di suatu grosir makanan ringan area Bandung. Namun, rasa keripik singkong itu hampir hambar dan sedikit pahit karena cabai. Lalu, saya pergi ke pasar untuk membeli bumbu dan cabai. Saya mencoba untuk mengeringkan bahan mentah dengan oven microwave (wave-drying) kemudian bereksperimen dengan bumbu lainnya. Keripik singkong tersebut memiliki rasa pedas yang lebih segar dan rasa kaldu sapi yang nikmat. Karena itulah produk ini bernama SAPILADA.

Selanjutnya, saya mengecer keripik tersebut dengan takaran 50g per bungkus, yang kemudian konsinyasi dengan warung-warung. Target konsinyasi pertama adalah warung dekat area kampus. Simpan 12 bungkus, setelah 7 hari habis. Setelah 3 kali repeat order, saya mencari rekanan konsinyasi lain.

Begitulah seterusnya hingga saya melihat kerupuk kulit rambak sapi berbentuk dadu di suatu toko oleh-oleh. Saya langsung beli dan bereksperimen. Pada dasarnya, kerupuk kulit versi rambak sudah memiliki rasa yang enak. Konon, rambak dapat mengurangi nyeri akibat maag. Campuran bumbu SAPILADA dengan rambak sangat nikmat seakan-akan telah ditakdirkan bersama. Penemuan teknik pengolahan bumbu wave-drying disertai kerupuk kulit membuat produk tersebut memiliki jangka repeat order lebih cepat daripada keripik singkong. SAPILADA pun mulai mendapatkan permintaan keagenan/reseller.

Bagaimana kontribusi SAPILADA SNACK pada ekonomi di lingkungan sekitar Anda?

Permintaan tertinggi datang dari suatu brand yang kami endorse kerupuk kulitnya. Awalnya, cukup 2 orang pada bagian produksi, namun bertambah 5 orang sehingga total 7 orang. Untuk pengiriman kami menyewa angkutan umum berikut supirnya. Kami pun memberikan petunjuk membuat bumbu pada brand tersebut sehingga mereka dapat memproduksi varian lainnya.

Brand tersebut berhasil melakukan strategi promosi yang baik dan menjaring marketeer (reseller) di seluruh Indonesia dengan titik puncak keluar barang 120.000 bungkus (semua varian) per bulan di tahun 2011. Persaingan usaha kerupuk kulit mulai meningkat sejak itu. Banyak yang membuat produk serupa dengan rasa bervariasi. Untuk memperkuat eksistensi brand SAPILADA dan menjangkau pasar lain, kami membuat dua produk baru, yaitu baso ikan goreng dan mie kering.

Lalu bagaimana motivasi Anda untuk mengikuti ajang ini dan mengapa Anda layak disebut ikon wirausaha di kota Anda?

Event Youth StartUp Icon ini adalah momentum untuk mendemonstrasikan visi saya. Visi saya adalah menyajikan makanan ringan homemade (convenient food) yang lezat untuk keluarga. Selama 3 tahun ini, konsumen SAPILADA adalah kelompok umur 13-55 tahun. Untuk menjangkau kelompok umur lain, 5-12 tahun & 55-63 tahun, dan kelompok masyarakat yang peka terhadap asupan gizi, saya bermaksud untuk meluncurkan produk snack organik yang telah teruji secara rasa dan akan diuji lab perihal gizinya. Snack ini berupa mie sayuran yang diolah dengan cara deep-fried dan semua bahannya dikategorikan organik. Dengan komposisi murni organik serta teknik pembuatan bumbu wave-drying, saya berasumsi bahwa gizi alami yang ada pada bahan-bahan tersebut akan hadir utuh.

Sejak tahun 2012, saya berhasil membuat mie organik ini. Survey rasa telah dilakukan terhadap 9 orang. Biaya produksi dapat ditekan sedemikian rupa setelah saya bertemu dengan kolega yang siap mensuplai bahan baku mie seperti all-purpose organic flour, garam laut, telur organik, gula tebu organik, jamur shitake, dan minyak goreng non kolesterol. Untuk bahan bumbu, saya bekerjasama dengan salah satu pemilik kebun organik di Bandung, yang bersedia untuk mendedikasikan beberapa petak kebunnya sehingga dapat memenuhi kuota bayangan produksi bumbu, seperti basil/kemangi dan cabai habanero organik. Desain kemasan sudah diatur untuk jenis kemasan pillow packaging dengan bahan alumunium foil.

Ini adalah hal yang baru dan menantang dalam area spesialisasi saya. Untuk itu, saya bersemangat dalam mengusahakan agar produk ini diuji di lab dan terjun ke pasar. Dengan menjadi Youth StartUp Icon Kota Bandung, produk ini akan semakin mudah meluncur menjadi salah satu koleksi pangan sehat yang direkomendasikan untuk Indonesia bahkan dunia.

Jaka Perdana

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Sales harus bisa memosisikan diri sejajar dengan konsumennya. Kalau rasa minder masih besar, tentu akan sulit"

-Djonnie Rahmat, Presdir PT Mabua Harley Davidson-