Club, Mag, Net and Radio For Marketeers Community



Lawrence Blair, “Indiana Jones” yang Mempopulerkan Indonesia



Lawrence Blair Lawrence Blair, Indiana Jones yang Mempopulerkan Indonesia

Lawrence Blair

Salah satu antropolog Barat yang getol menyelami Indonesia dari luar dalam adalah Lawrence Blair. Mungkin kebanyakan dari kita, khususnya orang Indonesia, tidak mengenalnya. Tapi, di kalangan Internasional, khususnya para antropolog, penulis, dan produser film, nama Lawrence Blair cukup kondang.

Pada Selasa siang (21/02/2012), Lawrence Blair bertandang sejenak di kantor redaksi Marketeers dan diwawancara di studio Marketeers Radio. Lawrence menceritakan pengalamannya menyelami Indonesia. Ia datang ke Indonesia pertama kali pada tahun 1965. Ia datang dari Mexico kala itu setelah keluarganya menjadi imigran dari England.  Di Indonesia, Lawrence dikenal juga di kalangan kebatinan, khususnya di komunitas Cilandak, Jakarta Selatan. “Saya datang di tahun-tahun membahayakan bagi Indonesia, yakni Tragedi 1965,” kata Lawrence.

Lawrence mengagumi Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya, suku bangsa, keunikan geografi, lingkungan, alam, dan sebagianya. Kekagumannya pada Indonesia dan suku bangsanya ia tuangkan juga dalam film dokumenter. Suku Bugis menjadi subjek film perdananya. Lulusan Lancaster University, England ini lebih senang menyebut dirinya sebagai seorang Psycho-Anthropologist sesuai denga ntesis doktoralnya di universitas tersebut untuk bidang Psycho-Anthropology.

Lawrence menyebut seorang Naturalis Inggris termasyur abad ke-19, Alfred Russel Wallace, sebagai salah seorang yang menginspiasinya. Wallace dikenal sebagai pencetus teori seleksi alam sebelum Charles Darwin.  Wallace, sambung Lawrence, tinggal dan berkeliling Indonesia selama delapan tahun. “Dia orang Barat yang pertama kali melihat bumi Cendrawsih dari Maluku. Perjalanan Wallace menginspirasi saya dan adik saya untuk napak tilas dengan kapal khas Suku Bugis, Kapal Pinisi. Kami melalukan syuting dari Makassar sampai Kepulauan Aru untuk film perdana. Kami 10 tahun keliling Indonesia. Cuma berdua saja dengan adik saya. Adik saya, Lorne Blair, yang bertugas memfilmkan itu meninggal dunia di Bali pada tahun 1995,” kata Lawrence.

Lawrence juga menulis buku tentang Indonesia bersama Lorne Lawrence berjudul “Ring of Fire: An Indonesian Odyssey” yang juga menjadi nama serial tv dokumenter. Karya ini merupakan hasil eksplorasi Lawrence pada kepulauan Indonesia selama 10 tahun. Karya ini berisi lima bagian. Bagian pertama adalah lima film yang menapilkan jalur Wallace mencapai Bugis lalu menjelajah menuju kepulauan Aru di dekat Papua Nugini.  Bagian kedua adalah “Dance of the Warriors” yang memotret Pulau Komodo, kehidupan budaya Sumba, Asmat, dan juga Bali. Bagian ketiga adalah “East of Krakatoa” yang mendeskripsikan jejak erupsi Krakatau sampai upacara penguburan raja di Toraja, Sulawesi.  Bagian keempat adalah “Dream Wanderers of Borneo” yang menceritakan kehidupan nomaden suku Dayak Punan. Kelima adalah “Beyond the Ring of Fire” yang menceritakan kisah kembalinya Lawrence Blair ke “nirwana” yang hilang di banyak tempat.

Lawrence menjadi salah satu nominasi Emmy Award dan pemenang National Educational Film serta Video Festival Silver Apple Award pada tahun 1989. Selain film tentang Suku Bugis, Larwrence juga  menggarap film tentang “Pesta Mati” di Suku Tana Toraja, Sumba, Asmat, dan sebagainya.

Ulasannya tentang Indonesia, antropolog satu ini tidak berlebihan bila dia dijuluki sebagai “Indiana Jones” Indonesia karena lewat penelitian ilmiahnya, ia memarketingkan Indonesia!

TWITTER REACTIONS

COMMENTS