Mengakhiri Hari dengan “Phantom of The Opera”
Seharian kemarin, saya beraktivitas di kapal lagi. Kapal dipacu dengan kecepatan tinggi. Kapal pun masuk Laut Norwegia dan melewati “garis kutub” terus ke utara. Karena itu, seharian kapal agak goyang ke kiri dan ke kanan. Selain itu, udara di luar pun makin dingin. Tapi, untuk “memancing” orang ke outdoor pool, di siang hari, disiapkan Special Asian Buffet Lunch.
Semua pelayan memakai seragam merah tua dengan tulisan “Asian Buffet”. Jadi, walaupun udara bikin orang menggigil, ada daya tarik tersendiri. Keluar dari standar sehari-hari di mana biasanya lunch-buffet adalah makanan barat. Kemarin, menu Asia-nya sangat lengkap didominasi oleh Chinese Food termasuk Peking Duck. Tapi, yang menyenangkan, menu Nasi Goreng juga ada!
Kayaknya Indonesia mulai berhasil memasukkan satu nama makanan ke dunia internasional, walaupun sangat tertinggal dari Thailand. Di negara Gajah Putih itu, konon kabarnya, waktu Thaksin jadi Perdana Menteri, pemerintah mensubsidi orang Thailand yang mau membuka Thai Resto di luar negeri. Karena itu, kemana pun saya pergi sekarang, selalu ada Thai Restaurant.
Begitu juga dengan Pemerintah Malaysia yang mensubsidi pengusahanya yang mau mem buka restoran Malaysia dimana-mana. Hasilnya belum seperti Thailand, tapi sudah mulai terasa di Asean. Di Jakarta sendiri, sudah semakin banyak restoran makanan Malaysia, seperti Penang Bistro dan juga restoran non-Melayu tapi yang diwaralabakan orang Malaysia.
Kemarin siang, saya hanya mampir ke Asian Buffet, tapi tidak makan apa-apa. Cuma minta es krim yang bebas gula. Ternyata ada dua pilihan rasa, Chocolate atau Vanilla! Makan siang saya kemarin di Crystal Dining di Deck 5 dengan memilih Menu yang Less-Carbo. Setelah Chicken-Soup, ada Thai Beef Salad yang enak sekali. Desert-nya juga bebas gula.
Di situ, ada pelayanan penuh karena bisa ala-carte, semuanya tidak usah bayar lagi. Malamnya, saya balik ke Sushi Bar. Sengaja pilih Sashimi Toro dan Hamachi juga Wagyu Beef! Wah, itu pertama kali saya mencoba Sashimi non-fish.
Di menu, ditulis Sashimi New Style. Ternyata, Wagyunya dipotong sangat tipis dan diberi saus dan timun di atasnya. Saya juga mencoba Nobu-Style Yellow Tail Sashimi with Jalapeno. Ternyata, Hamachi dipotong tipis diberi saus dan “lombok” Jalapeno yang tidak pedas untuk ukuran Indonesia. Sedang untuk entree, saya memilih Black Cod atau Gindara Grill yang di beri aroma Miso. Wah, benar-benar enak.
Saya jadi ingat salah seorang teman saya yang mengatakan bahwa menilai resto Jepang itu harus dari ginger dan wasabi pedas nya. Masih fresh atau enggak? Kemarin malam, saya memang merasakan suatu Japanese food yang sangat fresh, sehingga merasa sangat aman walaupun banyak yang daging mentah. Desertnya Tiramisu Sugar-free lagi.Dengan demikian walaupun sudah diabetes 27 tahun, di Crystal Serenity ini saya bisa tetap enjoy makanan enak dengan perasaan aman!
Selain menikmati makanan di berbagai tempat, kemarin saya juga sangat menikmati Special Lecture yang ada. Seluruhnya ada tiga lecture yang cukup “kelas” saya nikmati kemarin. Pembicara pertama adalah Rick Rose yang S1nya dari University of Pennsylvania dan MBAnya dari Columbia University. Sebagai entrepreneur dia sudah memulai dan akhirnya menjual empat perusahaan. Dia bicara tentang Globalisasi bersama dampak positif dan negatifnya. Walaupun yang dibicarakan biasa saja tapi tetap saja ada yang menarik. Kata dia,kata yang paling banyak di “google” orang adalah SEX! Sesudah itu, baru GOD dan JOB. Yang keempat baru salah satu entertainer di US, saya lupa namanya. Yang kelima Justin Bieber yang baru datang ke Indonesia.
Pembicara kedua adalah seorang Selibriti Pers di Amerika Howard Fineman. Sekarang, dia adalah Analis Politik di NBC News dan MSNBC, tapi juga Editorial Director di AOL Huffington Post Media Group. Orang ini bahkan sering menulis politik di New York Times, The Washington Post, dan The New Republic. Dia pernah mewawancarai semua presiden Amerika sejak 1985 karena itu analisisnya tentang situasi politik di Amerika sangat tajam. Kuliah ini yang paling menarik penumpang Amerika, apalagi negara mereka masih krisis dengan tingkat pengangguran sebesar 9,2 persen dari angkatan kerja atau 14 juta orang! Tapi, kelihatan bahwa Howard “membela” Barack Obama yang sedang negosiasi dengan House of Representatives sekarang untuk menambah defisit Anggaran.
Howard berani meramal bahkan sampai berakhirnya cruise ini pada 22 Juli nanti, negosiasi tidak akan selesai. Karena masing-masing pihak sebenarnya kurang memikirkan rakyat. Mereka hanya memikirkan bagaimana supaya terpilih lagi. Yang menarik dia mengatakan :”The Largest Theme Park in US is Washington DC!” “Politics is the Biggest Joke for the Ugly People!”
Tapi tetap saja dia mengatakan bahwa walaupun presidennya bukan Obama, krisis ekonomi Amerika ya tidak bisa lebih baik dari sekarang. Dia senang, ketika sesudah kuliah, saya mengatakan bahwa saya dari Indonesia, tempat Obama pernah tinggal selama empat tahun!
Pembicara ketiga tidak kalah menariknya adalah Dr Lames B Mass, profesor dan bekas Ketua Departemen Psikologi Cornell University. Dia bicara tentang bukunya “Power Sleep” dan “Sleep for Success.” Saya baru sadar bahwa berdasarkan riset ilmiah, ternyata semua orang usia berapa pun butuh tidur delapan jam sehari. Setiap defisit selalu ada akibatnya yang tidak baik untuk kesehatan termasuk berkurangnya daya ingat termasuk berkurangnya umur.
Wah, saya jadi ingat Dr Boen dari Kalbe Group yang selalu mengingatkan saya tentang hal itu. Kenyataannya, hampir separuh dari yang hadir kemarin, termasuk saya rat-rata hanya tidur 5-6 jam sehari. Kalau tidak di kapal, mana mau saya mendengarkan kuliah tentang “insomnia” seperti itu yang ternyata sangat penting! Wah…
Selain tiga “power lecture” itu, kemarin saya juga “melahap” hampir seluruh International Herald Tribune, koran favorit saya yang saya langgani selama dua minggu di kapal ini. Di darat, saya tidak pernah punya waktu membaca IHT lebih dari lima belas menit. Di kapal, saya bisa “menikmati” hampir setiap artikelnya yang ditulis secara apik dan enak dibaca.
Malam kemarin, saya “menutup” acara di Stardust Club dengan show tungal Philippa Healy, penyanyi opera dengan suara soprano yang menggetarkan. Diiringi Crystal Orchestra, Philippa kadang kadang juga main piano kaki tiga. Malam hari, saya di kapal kemarin jadi sangat indah karena “ditutup” dengan tiga lagu dari “Phantom of the Opera”.
Walaupun sudah nonton tiga kali di New York, Chicago, dan Singapore, saya tetap tidak pernah bosan pada musik Andrew Lloyd Weber ini. “Music of the Night” is my favourite. Di London, sebulan yang lalu, saya bahkan sudah sempat menonton sekuelnya, yaitu “Love Never Dies !” Dalam perjalan balik ke kamar untuk tidur, saya lewat Teater Hollywood dengan poster kerennya “Gone with the Wind” Sebuah “great movie” tentang cinta yang tidak pernah mati! Anda percaya juga, kan? Lovers may die, but Love Never Dies!
Oh, ya nanti malam WIB setelah docking di Honningsvag, saya akan ikut tur ke North Cape, yang ada di 71 derajat Lintang Utara.
Nantikan laporan saya besok!























