This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Thursday,October 02 2014

Manifesto

Does Sex Sell?

April 23 2013 | By Sigit Kurniawan
 



"Does sex sell?" itulah pertanyaan utama yang dilontarkan Tom Reichart dalam bukunya "The Erotic History of Advertising" (2003). Seperti diungkap dalam tulisan bagian I, Reichert mengatakan mengatakan dari sekian banyak perusahaan yang diriset, hampir semua mengatakan seks penting dalam periklanan. Mereka juga menganggap bukanlah aktivitas membuang-buang uang untuk menampilkan perempuan seksi dalam periklanan mereka. Bahkan, beberapa perusahaan mengatakan seks telah mendongkrak penjualan produk dan menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

Reichert menulis seks dan periklanan merupakan kombinasi yang mumpuni. Kenapa mumpuni? Pertama, seks merupakan kekuatan instingtif dalam diri manusia yang luar biasa. Bahkan, pada taraf tertentu, seks menjadi daya dorong akan kebutuhan dasar manusia, seperti kebutuhan akan rasa aman, tempat tinggal, makanan, dan sebagainya. Kekuatan ini bertambah mumpuni ketika dikombinasikan dengan periklanan, baik melalui media cetak, elektronik, maupun online seperti sekarang ini.

Bagi periklanan, seks bisa menjadi daya tarik kepada audiens untuk bisa membaca maupun memahami pesan dalam iklannya, di tengah persaingan dengan iklan dan jutaan informasi lainnya yang berseliweran di media.

Selain itu, perusahaan menggunakan simbol-simbol seks untuk memberikan asosiasi kepada audiens bahwa produk yang mereka tawarkan tidak lepas dari kebutuhan dan hasrat seksual, seperti halnya romantisme dan keintiman. Sementara, periklanan sendiri merupakan bagian dari alat pemasaran yang bersifat merangsang, memfasilitasi, sekaligus memiliki "daya paksa" pada audiens untuk melakukan pembelian.

Lebih dari 150 tahun lalu, beberapa merek sudah menggunakan simbol-simbol seks untuk periklanan mereka. Ambil contoh, Victoria's Secret, Calvin Klein, dan sebagainya. Namun, sebenarnya, jauh sebelum itu, sekitar tahun 1850, para pengiklan sudah mulai menggunakan ilustrasi maupun foto yang terkait dengan sosok perempuan seksi. Kemudian, beberapa merek minuman, fesyen, bir, rokok, dan sebagainya mulai ramai menggunakan ikon-ikon yang merangsang hasrat seksual tersebut.

Mengapa orang juga tertarik dengan iklan-iklan yang mengusung daya tarik seksual tersebut? Menyitir riset Jacque Lambiase, Reichart mengatakan ada tiga hal yang melatarinya. Pertama, iklan seksual itu memberikan daya tarik seksual kepada konsumennya. Kedua, konsumen akan merasa terlibat dalam perilaku seksual seperti yang diiklankan. Ketiga, audiens bisa merasa tambah seksi maupun sensual bila mengenakan produk yang diiklankan tersebut. Dengan demikian, makin tandas bahwa periklanan memang menjadi alat jitu menumbuhkan persepsi di kalangan konsumennya.

Seperti apa kasus-kasus dari merek yang berhasil dan gagal dalam "sex in advertising" ini? Simak di tulisan-tulisan selanjutnya.

Sumber Ilustrasi: Forbes

Sigit Kurniawan

Writer, Journalist, Free Thinker. Twitter: @sigit_kurniawan

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

Kekayaan alam, sumber daya manusia, dan kepulauan menjadi positioning yang baik bagi Indonesia untuk menjadi negara berorientasi ekspor

-Emeritus Professor Lim Chong Yah, Nanyang Technological University-