This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Monday,July 28 2014

Case Studies

Merintis Usaha Kue Basah

June 17 2011 | By Hafiz
Usaha bisnis kue basah ini bermula dari keinginan saya untuk bisa hidup mandiri setelah menyelesaikan kuliah di IAIN Banjarmasin. Selepas lulus dari IAIN tahun 2008, saya sempat bekerja sebagai pelayan sebuah Rumah Makan di Banjarmasin selama beberapa bulan. Di pengujung 2008 saya berhenti dari Rumah Makan dan meneruskan kegiatan sebagai ta’mir mesjid serta melamar sebagai karyawan sebuah koperasi sekolah Islam terpadu.

Akhir tahun 2009, saya memutuskan untuk berhenti jadi karyawan dan berinisiatif agar bisa berusaha ‘lebih bebas’ dengan menjadi interpreneur walau harus merangkak dengan modal kecil-kecilan. Saat itu pula saya pulang ke kampung halaman di Samarinda dan mempelajari cara membuat berbagai macam kue selama lebih kurang satu bulan. Di Januari 2010, setelah berhenti dari ta’mir mesjid, saya ‘resmi’ memberanikan diri dengan memulai usaha kue donat kentang yang saya bikin sendiri ditemani satu orang karyawan, yakni adik saya sendiri.

Strategi penjualannya pun sangat sederhana dengan menjajakan keliling, dengan tujuan kampus IAIN—almamater saya, taman kanak-kanak, dan ibu-ibu komplek perumahan. Sebagai salah satu teknik utama saya dalam memperkenalkan jenis-jenis kue adalah dengan cara memberikan cuma-cuma kepada calon pelanggan. Misalnya, saat saya mampir di sebuah Taman Kanak-Kanak, saya tidak segan-segan menawarkan dan memberikan kue secara gratis sebagai ’perkenalan’. Hanya dengan ditemani motor pribadi, saya rela melawan panas dan hujan menjajakan dan mengantar kue kepada para pelanggan.

Alhasil, usaha saya tersebut tidak sia-sia. Setiap hari, sejak berangkat jam delapan pagi, dagangan keliling saya selalu sudah habis terjual sebelum tengah hari. Di samping itu, sampai saat ini saya sudah punya pelanggan tetap di beberapa kantor dan biro pelayanan pelayanan jasa. Dengan bermodalkan kegemaran saya memperluas jaringan dan menambah kenalan, tidak jarang pula saya mendapat orderan untuk acara-acara tertentu, misalnya kegiatan-kegiatan para mahasiswa, bakti sosial di panti asuhan, bahkan kegiatan keagamaan di salah satu Pondok Pesantren di Banjarmasin. Untuk kasus yang terakhir, saya sempat bingung disebabkan sumber daya manusia yang saya miliki sangat terbatas. Akibatnya, saat itu saya harus meminta bantuan dari rekan-rekan kuliah saya dahulu.

Pada saat saya memulai usaha ini saya memperoleh pinjaman dana dari salah seorang keluarga dekat (paman saya sendiri) dalam jumlah yang relatif sedikit, yakni sebesar lima juta rupiah. Saya pun segera mengambil langkah-langkah praktis dengan mempersiapkan bahan-bahan dan alat-alat yang diperlukan dalam proses pembuatan sampai penjualan kue. Semula saya hanya membuat kue donat kentang. Akan tetapi, setelah beberapa bulan berjalan, animo pelanggan semakin besar sehingga saya memutuskan untuk menambah jenis resoles isi daging dan kue lumpur. Hasilnya pun sama sekali tidak mengecewakan, malah usaha saya mampu merangkak semakin berkembang.

Adapun manajemen keuangan yang saya jalankan boleh dibilang sangat sederhana. Selama ini saya memang tidak menerapkan sistem pengaturan keuangan secara sistematis layaknya perusahaan atau badan usaha. Akan tetapi, jiwa ’pedagang’ sudah yang menjadi warisan turun-temurun dalam keluarga membuat saya tidak canggung dalam mengelola keluar-masuknya keuangan hasil usaha ini. Begitu juga dengan sumber daya manusia yang saya miliki sangat terbatas. Hanya dibantu oleh adik saya seorang, bisnis kecil ”Hafiz Bakery” tetap bisa berjalan lancar.

Dalam memasarkan bisnis ini saya masih menggunakan teknologi yang masih sederhana, misalnya memperkenalkan usaha saya kepada kenalan-kenalan saya via telepon dan pesan singkat (sms). Di samping itu, adik saya juga sering online sekaligus dapat memperkenalkan kue basah yang kami produksi.

Saya selalu berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik bagi para pelanggan. Saya selalu teringat dengan petuah orang tua bahwa ”setiap masakan yang disajikan hendaklah dibuat dengan sepenuh hati”. Saya selalu mengutamakan kualitas ketimbang keuntungan yang berlipat ganda namun kurang memuaskan. Komposisi utama pembuatannya pun adalah bahan-bahan pilihan yang bermutu. Oleh karena itu, meskipun ada banyak orang yang melakoni usaha kue basah seperti ini, saya mampu bersaing secara sehat dan proporsional.

Mengenai peta persaingan di Banjarmasin, secara realitas memang terdapat usaha-usaha yang serupa. Akan tetapi, saya melirik peluang tersendiri dalam metode pemasaran saya. Selama ini, di Banjarmasin dan sekitarnya usaha kue basah lebih dominan terfokus dijual di sore hari. Oleh sebab itu, saya mempunyai terosobosan untuk menjualnya secara aktif (menjajakan keliling) pada pagi hari dengan target pemasaran kampus, Taman Kanak-kanak, kantor-kantor, dan komplek perumahan.

Setelah menjalani usaha ini selama satu setengah tahun, saya semakin merasa mantap dan yakin bahwa bisnis ini prospektif terutama jika omzet dan pengelolaannya ditingkatkan. Saya juga semakin sadar bahwa merintis usaha kuliner tidak mesti dengan modal besar. Kata kuncinya ada pada kemauan, semangat, dan trik-trik khusus dalam memperkenalkan jenis produk kita. Selain itu, kita harus pandai melirik pangsa pasar serta perkembangan usaha yang serupa agar dapat bersaingan secara sehat. Oleh karena itu, saya sama sekali tidak merasa ’gentar’ dengan banyaknya usaha-usaha kue basah lainnya. Dan pastinya, bisnis kecil saya ini tetap eksis dan saya yakin akan terus eksis!

----------------------

Artikel ini ditulis untuk kontes Youth Starup Icon

*Ilustrasi dari http://tiaraantik.com/download-aneka-resep-kue-basah-lengkap.html

Hafiz

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

Sometimes when you innovate, you make mistakes. It is best to admit them quickly, and get on with improving your other innovations.

-Steve Jobs-