Nama Saya Bukan Menteri, Tapi Dahlan Iskan
Itu adalah kalimat yang diucapkan Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan pada Pak Junardy. Hal itu terjadi di Ruang Pertemuan PT Angkasa Pura 2 dekat Lapangan Terbang Sukarno-Hatta pada tanggal 16 November malam di tengah Rapat Dewan Juri Marketer of the Year 2011.
Waktu itu, pertemuan sudah dimulai dan Pak YW Junardy, Komut Rajawali Group, juga mantan President Indonesia Marketing Association dan dan Asia Pacific Marketing Federation datang agak terlambat. terlambat. Pak Dahlan sendiri sudah tiba sejam sebelum acara rapat yang didahului dengan makan malam itu dijadwalkan pukul tujuh malam. Saya sendiri khawatir kalau Pak Dahlan yang Marketer of the Year 2010 tidak bisa datang, karena lagi bersama Presiden SBY di Bali dalam rangka KTT ASEAN. Tapi Pak Dahlan tetap komit untuk datang dan balik kembali ke Bali setelah pertemuan. “Komitmen itu mahal,” kata Pak Dahlan ketika akan balik ke Bali pada pukul 9 malam dari kantor PT Angkasa Pura 2. Itulah Pak Dahlan Iskan yang sudah saya kenal lebih dari sekitar dua puluh lima tahun. Dia tidak pernah berubah! Sejak jadi wartawan Tempo, sampai jadi orang yang membesarkan Jawa Pos Group, CEO PLN sampai sekarang jadi Menteri.
Demikian tulis CEO dan Founder MarkPlus, Inc Hermawan Kartajaya dalam kolom “Message” di Majalah Marketeers edisi Januari 2012. Hermawan menilai sosok Dahlan Iskan sebagai seorang pemimpin dan pengusaha sejati. Sebagai pengusaha sejati, sambung Hermawan, Dahlan memiliki komitmen besar dalam menjalankan bisnisnya. Tak heran, saat dia memimpin Jawa Pos, ia turut bekerja keras sambil memberi teladan kepada karyawannya arti bekerja keras tersebut.
Dahlan juga senantiasa mendorong awak Jawa Pos untuk kreatif. Ia menantang agar wartawannya berani kreatif untuk menurunkan berita-berita yang berbeda, tidak seragam dengan media-media lain. Saat zaman Soeharto, Dahlan pernah menantang: “Kenapa semua korang di Indonesia, front page-nya harus gambar Pak Harto?” Demikian Hermawan memberi contoh dalam tulisannya.
Hermawan menilai juga sosok Dahlan sebagai seorang pemimpin visioner. Hermawan menulis Pak Dahlan juga sudah bisa melihat kedepan apa yang akan terjadi di industri media di Indonesia. “Jangan berusaha frontal dengan Kompas, karena itu sama saja dengan bunuh diri,” itulah yang selalu dinasehatkan Dahlan pada semua stafnya.
Dan setelah Jawa Pos mulai sukses, sambung Hermawan, Dahlan pun masuk ke daerah-daerah membangun koran lokal. Cara itulah yang dipakai untuk memberi kebanggaan kepada orang-orang daerah dan juga tidak perlu “frontal” dengan Kompas. Sekarang, orang baru melihat bahwa otonomi daerah telah menuntut adanya kebutuhan akan koran daerah. Begitu juga dengan bahasa Tionghoa yang dipelajarinya dengan serius. Waktu itu semua heran, kenapa pak Dahlan sering pergi ke Tiongkok. Ternyata dia memang berusaha mati-matian untuk mempelajari bahasa yang sulit itu, tapi sekarang sudah menjadi bahasa dunia yang kedua setelah Inggris.
Faktor kepemimpinan adalah faktor yang menonjol pada dirinya. Di Jawa Pos,Pak Dahlan menciptakan budaya perusahaan yang khas. Dia dipanggil Bos, begitu juga dia selalu memanggil semua orang disitu sebagai Bos. Jadi semua orang Bos di Jawa Pos. Dia tidak segan-egan meminjamkan mobil pribadi untuk mengangkut koran, kalau diperlukan. Dia juga selalu memberi contoh bagaimana bekerja keras. Pak Dahlan tidak punya kantor, karena katanya, hal itu akan mengurangi space untuk bekerja. Hermawan sering melihat dia tidur di atas meja kerja atau malah di kolongnya.
Saat diangkat oleh Presiden SBY, Dahlan Iskan tetaplah menjadi seorang Dahlan Iskan yang dulu. Baik dari sisi kepemimpinan maupun kerendahhatiannya. Hermawan menulis dia juga berargumen bahwa jadi Dirut BUMN itu sebenarnya lebih enak ketimbang dari yang swasta. Ketika tidak ada Menteri yang mau ambil keputusan, maka disitulah entrepreneurship harus dipakai di “wilayah abu abu”. Selain itu, direksi BUMN juga harus bisa visionary,membayangkan suatu masa depan dengan “manufacturing hope” Tanpa punya hope, maka mana bisa jadi seorang visionaris.
Selain itu! Sudah pasti Direksi BUMN harus jadi pemimpin yang egaliter seperti dirinya. Karena itu Pak Dahlan selalu mengatakan bahwa ruang pelayanan konsumen harus lebih bagus dari ruang kerja direksi. Dialah Menteri yang tidak suka melakukan keynote speech, tapi langsung saja bicara pada materi.
(Tulisan lebih lengkap bisa dibaca di Majalah Marketeers edisi Januari 2012. Majalah bisa didapatkan pada tautan ini)
TWITTER REACTIONS
COMMENTS
-
Aan Hunaifi




















