Club, Mag, Net and Radio For Marketeers Community



Occupy Wall Street, Marketing and Everything!



hak wall street Occupy Wall Street, Marketing and Everything!Di mana dan apa yang anda kerjakan pada 11.11.11? Bagi saya, tanggal istimewa yang tidak mungkin kembali lagi, itu merupakan kenangan yang tak terlupakan.  Saya mendarat di lapangan terbang Incheon pada pukul tujuh pagi waktu setempat.  Sama dengan pukul lima pagi Waktu Indonesia Barat.

Sehari sebelumnya, pada tanggal 10 November, saya terbang dari Jakarta ke Singapore dan lanjut ke Seoul, tepatnya Incheon.  Artinya sejak kalendar masuk tanggal 11.11.11, saya menghabiskan lima jam pertama di pesawat Singapore Airlines. Di Incheon, saya dijemput Ony Afrianto Jamhari dari Global Center, SolBridge School of Business di Daejon. Perjalanan darat dengan mobil Hyundai cukup menyenangkan dari Incheon ke Daejon selama dua setengah jam termasuk berhenti setengah jam di suatu rest-area.  Kami tidak perlu memasuki Seoul, hanya mem “by-pass” saja ibukota Korea Selatan itu.

Jalan raya yang lebar dan halus itu , kata Ony, kalau dilanjutkan terus ke Selatan akan berakhir di Busan, bahkan bisa melewati jembatan ke Pulau Jeju. Setiba di Daejon, saya langsung diantar ke kampus SolBridge yang menjadi bagian dari Woosong University. Daejon hanya berpenduduk sekitar 1,3 juta orang tapi sangat modern.

Kota ini sering disebut sebagai “silicon valley” nya Korea, karena saking banyaknya perusahaan berbasis digital dan pusat penelitian ada disitu. Kota ini juga merupakan kota mahasiswa di Korea, karena saking banyaknya universitas ada disitu. Tapi sejak enam puluh tahun lalu, ada satu keluarga Kim yang punya idealisme tinggi. Ingin membangun Korea baru lewat pendidikan!

Karena itu, mereka mulai mendirikan sekolah sekolah dasar,menengah sampai ke SMU. Sejak 1995, mereka meningkat ke Universitas dan sejak empat tahun lalu memulai SolBridge School of Business. SolBridge punya diferensiasi sangat sulit ditiru di Korea, karena hukumnya yang 80:20! Artinya, baik jumlah mahasiswa maupun dosen harus 80 persen orang asing dan 20 persen lokal. Karena itu, kampus SolBridge jadi kayak mini PBB.

Tidak ada orang berbahasa Korea disitu, karena orang loka Korea jadi minoritas! Budaya pun jadi keliatan beragam, karena orang dari berbagai bangsa ada di situ. Ketika saya sampai di kampus, saya hanya punya waktu sembilan puluh menit, karena ditunggu Chairman Kim dan Dean “Woody” Jun untuk makan siang. Pas pukul 12 saya makan siang di restoran elit yang dikelola oleh Woosong sendiri. Kokinya bisa jadi profesor, sedang pelayannya pasti mahasiswa.

Kenapa? Karena, Woosong punya school of art culinary nomor satu seluruh Korea!  Jadi sekalian, mereka bekerja praktek disitu. Chairman Kim selama makan berceritera bagaimana dulu bapaknya mendirikan Yayasan Pendidikan dengan idealisme merubah nasih bangsa Korea.  Sekarang dua anaknya yang sudah lulus dari Amerika pun sudah mulai membantu di Yayasan.

Di Daejon, mereka punya berbagai properti yang dipakai sebagai tempat pendidikan segala macam.  Mulai dari TK, SD, SMP, SMU sampai Universitas, Teater dan macam-macam lagi. Sedang Dean “Woody” Jun yang S2 nya lulusan Kellogg dan S3 nya lulusan MIT ternyata sangat gampang bergaul dengan orang baru.

Saya datang kesitu karena saya utang, tidak bisa memenuhi undangan untuk hadir di Simposium yang diselenggarakan oleh Global Advisory Council Woosong Mei yang lalu, dimana saya adalah salah satu anggotanya. Karena itulah, untuk pertama kalinya saya melihat Kampus SolBridge.

Saya sempat mengatakan bahwa “Korea is the New Japan in North East Asia” dan “Indonesia is the New China in South East Asia” ! Dan Korea dan Indonesia masuk didalam daftar hanya lima negara bersama Tiongkok, Jepang dan India di G-20! Itulah cara mencari “persamaan” sebagai “pelancar” pembicaraan. Langsung aja kedua mereka tertegun karena baru sadar akan hal itu.

Jadi, kedua belah pihak harus meningkatkan hubungan sekuat tenaga ! Saya tahu baru ada 11 orang mahasiswa Indonesia di SolBridge lewat berbagai jalur berkat kegigihan Ony memasarkan SolBridge di Indonesia. Tapi saya pun bilang ke Ony sebagai “bapak” nya anak-anak Indonesia disitu bahwa mereka harus bawa nama baik Indonesia.

Karena, Indonesia sekarang adalah negara terbesar ekonominya di ASEAN, jadi para mahasiswa kita harus jadi pionir untuk memperkenalkan ASEAN juga di SolBridge! Selesai makan satu jam, Chairman Kim memberikan kenang-kenangan kecil pada saya.

Tapi pada waktu di pembukaan Seminar, setelah itu Chairman Kim memberikan plakat Global Advisory Council pada saya, yang belum sempat saya terima sejak Mei. President atau Rektor John Endicott membaca CV saya, setelah pengantar singkat dari Dean “Woody”.

Ternyata belakangan saya tau bahwa John adalah orang “besar” yang pernah jadi nominee Hadiah Nobel Perdamaian, ketika Obama mendapatkannya.

Maklum, karena John adalah pensiunan bintang dua di US Army yang pernah aktif di National War College di West Point.John dulu mengajar Strategi Perang disitu! Wow! Dari situ, saya melihat betapa seriusnya keluarga Kim ingin membangun SolBridge.

Dalam empat tahun, Sekolah bisnis ini menurut sebuah lembaga survei di Korea sudah ranking empat di Korea setelah tiga besar yang semuanya ada di Seoul! Dr Lim yang bos langsungnya Ony, dengan rendah hati mengatakan bahwa paling enggak sudah masuk “top ten” di Korea.

Hebat kan, baru empat tahun sudah begitu ? Sepanjang kuliah umum singkat itu, saya menjelaskan tentang Marketing 3.0 berdasarkan buku kelima saya bersama Philip Kotler yang sudah diterjemahkan ke 23 bahasa, termasuk Korea! Saya sendiri heran kenapa penerbit Korea mau membayar sampai USD 150.000 ke John Wiley untuk ijin penterjemahannya!

Belakangan saya baru tahu, bahwa judul di Korea berubah jadi MARKET 3.0, mungkin supaya pasarnya lebih luas. Tapi yang menyedihkan, nama saya dan Iwan Setiawan (Chief Executive MarkPlus Consulting, lulusan Kellogg) yang juga co-author tidak ada di cover buku! Hanya nama Philip Kotler dan penterjemahnya yang ada. Ketika saya cari-cari, ternyata nama saya dan Iwan hanya ditulis kecil didalam, bersama Philip Kotler sebagai pemegang “copy right“.  It is okay, karena itulah “nasib” seorang “originator” seperti saya.

Walaupun Konsep “Marketing 3.0″ digodog di MarkPlus Inc tapi ternyata hanya “diakui” kecil di Korea. Tapi di sesi kuliah umum SolBridge, saya tidak malu2 menjelaskan bahwa sayalah selalu yang jadi “originator” dari kelima buku saya bersama Philip Kotler. Saya pun secara gamblang mengatakan bahwa Marketing saya adalah the Future of Marketing!

Bukan text-book yang selalu mengacu pada bukti-bukti masa lalu. Marketing saya adalah bahan “perenungan” akan bagaimana Marketing seharusnya dilakukan di masa depan. Ternyata? Ada dua puluh tiga bahasa mau menterjemahkannya, termasuk bahasa terakhir adalah Persia dari Iran! Artinya, konsep Marketing with Human Spirit itu diterima oleh berbagai bangsa, etnik maupun budaya. Karena itu contohnya juga susah!

Karena selama mempersiapkan buku itu, saya mewanti-wanti Iwan Setiawan yang melakukan riset dan penulisan secara detail, untuk hati-hati dalam melakukan pilihan. Karena di zaman edan seperti sekarang ini, memang jarang ada perusahaan yang mau memperhatikan Planet dan People selain Profit!

 

Jadi Spirit 3.0 adalah “beyond CSR”!

Di Museum Marketing 3.0 di Ubud, Anda bisa melihat contoh-contoh perusahaan seperti Body Shop, Air Asia, Virgin Airlines, Grameen dan Astra International. Semuanya terbilang perusahaan langka yang ingin “make a difference“! Bukan sekadar “differentiate themselves from competitors“!

Bahan Marketing 3.0 saya lanjutkan dengan New Wave Marketing yang akan jadi buku saya berikutnya bersama Philip Kotler. Kosnsep Horizontal Marketing itu ternyata menarik perhatian para mahasiswa maupun pengajar yang hadir waktu itu. Itu saya tahu dari Ony yang malamnya menunjukkan pesan-pesan digital dari para mahasiswa di media sosial yag dipantaunya.

Malamnya, saya memang nonton konser K-Pop Culture bersama President John Edicott dan isterinya yang orang Jepang Mitchell juga di Teater nya Woosong!

Setahun sekali, Chairman Kim mengundang seluruh guru TK, SD, SMP, SMU seluruh Daejon ke sebuah acara hiburan.

 

Biasanya, sesudah ujian nasional, jadi sebagai obat pelepas lelah! Wah, ternyata Konser K-Pop Culture itu sangat hot. Banyak artis dan grup musik dari Seoul yang datang mengguncang guru-guru tersebut. Jadi jangan membayangkan mereka akan bernyanyi “melankolis” ala “winter sonata“! Saya baru sekali itu melihat bagaimana seluruh ruangan yang isinya guru-guru itu berdansa di tempat.

 

Hampir semua lagu berbahasa Kore tapi dikemas modern ala Barat. Dandanan mereka pun semuanya hot dan sexy, itulah the New Korea! Pada saat ini K-Pop Culture ini sudah melanda dunia termasuk Jakarta ! Malamnya saya balik ke Suite saya di lantai 14, Kampus SolBridge dengan berbagai ragam perasaan. Saya tidur pada pukul dua belas malam,”menutup” 11.11.11 bukan dengan pembukaan Sea Games tapi dengan mengalami the Korean Experience.

Besoknya saya bangun pagi dan baru bisa mengerti begitulah semangat Korea! Lihat saja ketika bagaimana Samsung bersumpah untuk mengalahkan Sony? Sekarang terjadilah!

Flat TV di seluruh dunia sudah dikuasai Samsung. Bahkan, konon kabarnya, jumlah penjualan smart phone Samsung sudah lebih besar dari iPhone! Setelah SolBridge, saya memang ke Seoul untuk berbicara di Chamber of Commerce and Industry of Korea (KADIN ) yang di-host oleh Marketer Society of Korea (MASOK). Karena itu kali ini saya hampir seminggu ada di Korea dan saban hari bergaul dengan orang Korea!  Saya kagum dengan budaya kerja keras mereka.

Begitu juga dengan kecepatan kerja mereka serta semangat untuk selalu jadi nomor satu!

Walaupun sulu tertinggal dari Jepang, tapi mereka berusaha terus mengejar Jepang!

Mereka menggabungkan aspek-aspek positif dari Western Management dan Japanese Management.

 

Karena itu mereka lebih “cepat” dari Jepang tapi tetap lebih “tekun” dari Barat!

Bagi saya itulah yang disebut “Occupy the World“! Mereka tidak peduli walaupun mereka belum besar tapi berani inovatif untuk jadi besar. Hal itu saya lihat di SolBridge juga!

Seminggu sebelum ke Korea, saya punya kesempatan melihat “Occupy Wall Street” di tempat!

Sekumpulan orang-orang yang frustasi karena perilaku orang-orang Wall Street pada berkemah di Liberty Plaza. “We are 99 percent!” kata mereka. Mereka juga tidak peduli walaupun lagi kehilangan pekerjaan karena sistem kapitalisme  Barat. Mereka berkumpul disitu untuk memprotes sistem yang memperkaya para banker Wall Street yang tidak bertanggung jawab.

Kalau bankrut? Biasanya minta “bail out” dari Pemerintah atas nama para nasabah kecil.  Dari waktu ke waktu gerakan ini membesar dan pengaruhnya menjalar ke seluruh dunia.  Saya pribadi melihat bahwa gerakan “Occupy” ini akan lebih kuat dari “G-20″ sekalipun! Korea dan mereka adalah Masa Depan, sedang yang lain adalah Masa Lalu! Saya jadi ingat kehadiran seorang mahasiswa S3 dari suatu Perguruan Tinggi Negeri paling kesohor di negeri ini ke kantor saya.

Dia mengeluh karena, ketika dia mengutip konsep pemasaran “masa depan” saya di tesisnya ditolak oleh dosen pembimbingnya  Alasannya? Karena tidak ilmiah dan belum terbukti! Lucunya, saya sempat melihat sebuah ilustrasi model pemasaran saya yang pernah dimuat sebuah buku teks dari Profesor Warren J Keegan.

Kenapa boleh? “Karena saya hanya mencantumkan nama Warren Keegan, tanpa nama bapak,” katanya. Model-model saya memang saya gambar berdasrkan imajinasi masa depan, seperti mimpi SolBridge dan Occupy Wall Street.  Bukan berdasarkan bukti bukti ilmiah masa lalu. Dan itu laku…

Buktinya “Marketing 3.0″ tersebar keseluruh dunia, begitu juga saya yakin dengan New Wave Marketing yang semuanya “hanya” berasal dari kantor MarkPlus Inc di Jakarta, Indonesia.Saya melakukan “Occupy Marketing!”  Jangan ragu ragu, kalau Anda ingin melakukan “Occupy Everything”!

Cuma ada tiga modal untuk melakukan itu.  Punya PASSION yang kuat untuk melakukan pembelajaran, yang tidak usah tergantung pada kelase kuliah. Kedua adalah IMAGINATION yang merupakan mimpi anda akan masa depan yang dibayangkan. Dan terakhir adalah CREATION yang berupa penciptaan-penciptaan mimpi anda !

Siap untuk melakukannya? Belajarlah dari Korea dan Wall Street!

TWITTER REACTIONS

COMMENTS