Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Belanda Asli Indonesia
The-Marketeers.com - God made the world, but Librarian from Indonesia made Holland. Setelah membaca artikel “Wah, CIA Baca Twitter dan Facebook Kita!” yang memberitakan mengenai Librarian Ninja sebagai agen intelijen AS CIA. Kali ini, Marketeers akan memberitakan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ untuk negeri Belanda yang berkewarganegaraan Indonesia.
“Librarian adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Di Belanda, librarian sangatlah vital, karena selain guru mereka juga yang pertama kali mengenalkan pengetahuan melalui perpustakaan” tutur Martha Dwi Susilowati, seorang librarian di perpustakaan Arnhem, Belanda Timur.
Mengapa ingin menjadi Librarian?
Sebenarnya saya tidak punya latar belakang pendidikan perpustakaan. Saya lulusan dari Ilmu Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Di Belanda, saya harus mulai pendidikan dari awal. Diawali dengan studi Informatie Dienstverlening Openbare Bibliotheken (Library Information Services) di Den Haag. Dilanjutkan dengan studi untuk menjadi Jeugdbibliothecaris (librarian untuk anak & remaja).
Sejak akhir 2008, saya menjalani fungsi penuh sebagai Jeugdbibliothecaris. Menjadi librarian di Belanda tidak lah mudah. Tugas saya antara lain pembentukan atau pemeliharaan koleksi buku anak dan remaja, tata ruang interior, story telling, presentasi, menerima dan mengorganisir kunjungan anak sekolah dan administrasi (mengumpulkan data untuk keperluan statistik).
Apa yang membuat Anda mencintai profesi ini?
Berkat suka membaca dan kontak dengan anak-anak, akhirnya saya dekat dengan perpustakaan dan menjadi Librarian. Sebuah kebanggan tersendiri ketika bisa membantu anak-anak yang membutuhkan bantuan ilmu pengetahuan hingga mendapat kepuasan maksimal yang dibutuhkan. Dengan kata lain, bangga dapat mencerdaskan jiwa anak-anak. I love this job!
Pandangan Anda tentang profesi Librarian?
Di Belanda, Librarian itu mempunyai andil yang cukup besar di bidang pendidikan, kebudayaan, dan pengetahuan. Dan disini, perpustakaan dan librarian mendapatkan dukungan besar dari pemerintah.
Dukungan seperti apa dari Pemerintah Belanda untuk perpustakaan?
Pemerintah Belanda sangat serius dalam upaya mendukung minat baca. Perpustakaan adalah bagian dari prasana kemasyarakatan dan itu tercantum dalam kebijakan pemerintah. Perpustakaan dapat subsidi dalam jumlah yang besar baik dari pemerintah pusat, propinsi, dan kotamadya.
Dengan penduduk sekitar 16 juta jiwa, Belanda punya 170 perpustakaan umum. Pemerintah juga mendukung beberapa yayasan yang bekerja sama erat dengan perpustakaan, yaitu CPNB (Collectieve Propaganda Nederlandse Boeken), Stichting Lezen (Yayasan Membaca) dan NBD (Nederlandse Bibliotheek Dienst). CPNB ini semacam badan promosi buku-buku (mereka mewadahi penerbit dan toko-toko buku), Stichting Lezen tugasnya menciptakan berbagai macam proyek-proyek pengembagan minat baca, dan NBD ini adalah pemasok koleksi perpustakaan. Pokoknya badan-badan ini berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Pemerintah sangat mendukung dalam bentuk dana dan kebijakan politik. Perpustakaan di Belanda juga bersatu dalam bentuk Yayasan. Yayasan ini mewadahi semua perpustakaan umum, universitas, dan perusahaan di Belanda.
Pandangan Anda tentang perpustakaan di Indonesia?
Persatuan, kerjasama dan koordinasi adalah kata kunci dari kemajuan perpustakaan di Belanda. Saya rasa masih panjang sekali jalan dunia perpustakaan di Indonesia untuk mencapai kemajuan seperti di negeri Belanda. Selama tidak ada upaya serius dalam bentuk dukungan dari segala pihak. Di Belanda, perpustakaan sangatlah indah berkat dukungan dan kerjasama dari seluruh pihak yang terkait. Sudah saatnya, librarian Indonesia bersatu untuk majunya dunia pendidikan dan pustaka Indonesia.
Image courtesy of Martha Dwi Susilowati
Follow us on Twitter @the_marketeers





















