This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Sunday,April 20 2014

Manifesto

Praktik Green Banking (II)

August 11 2011 | By Sigit Kurniawan


Sebagai upaya tegas dalam andil pada pelestarian lingkungan hidup, bank wajib memasukkan klausa mengenai kemungkinan terjadinya permasalahan lingkungan hidup yang dapat berakibat terjadinya penghentian penyaluran kredit, termasuk kemungkinan untuk banker's clause. Pada saat evaluasi kinerja,  sambung Ratih Sekaryuni, perbankan diharuskan terus memantau risiko lingkungan hidup dari usaha yang dibiayai kreditnya

Untuk penerapan konsep green banking di Indonesia, Ratih memaparkan hal-hal yang bisa dipertimbangkan dan sifatnya mendukung praktik ini. Dari sisi legal, Indonesia sudah mempunyai Undang-undang no. 7 Tahun 1992 tentang perbankan yang mewajibkan bank untuk memberi perhatian pada AMDAL bagi perusahaan berskala besar dan atau berisiko tinggi agar proyek yang dibiayai tidak akan merusak lingkungan.  UU no. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup juga bisa digunakan untuk mempertegas misi perbankan yang peduli pada kelestarian lingkungan.

Sementara, kebijakan Bank Indonesia yang mendorong fungsi intermediasi dan keuangan sudah sejalan  dengan tren global yang memasukkan misi pelestarian lingkungan hidup. Pada dasarnya pelaksanaan green banking ini melibatkan banyak pihak, khususnya multi  stakeholders perbankan itu sendiri, seperti dari bank, nasabah, pemerintah, pasar modal, dan sebagainya.

Benefit Kebijakan Green Banking

Senada dengan Ratih Sekaryuni, Ekonomi Indef Avilani dalam makalahnya untuk “Seminar Strategi Menuju Green Banking” 12 Juli yang lalu, menandaskan bahwa green banking harus didahului dulu dengan praktik green industry karena bank ada untuk industri. Sebab itu, sertifikasi green industry harus dipertegas, mengingat hidup bank juga tergantung dari industri— boleh dikatakan biar tidak merugi maupun bankrut.

Ada beberapa benefit yang menurut Aviliani bisa didapat perusahaan yang melakukan investasi lingkungan. Misalnya, mendapat sertifikasi ramah lingkungan, memperbaiki citra perusahaan, menghemat biaya produksi, memperluar pangsa pasar, serta membuka lapangan pekerjaan dan andil dalam penanggulangan sampah perkotaan.

Namun, menurut saya, upaya pelestarian lingkungan tidak hanya sekadar upaya mendongkrak citra perusahaan di tengah tren—untuk tidak mengatakan latah—gembar-gembor kampanye pelestarian lingkungan ini. Dalam konsep Marketing 3.0, kepedulian pada planet  menjadi langkah wajib—bukan sekadar sunnah—kalau perusahaan menginginkan bisnis yang berkelanjutan.

Banyak perusahaan yang emoh maupun ragu-ragu berinvestasi pada lingkungan karena menganggapnya sebagai berbiaya besar, buang-buang duit, bahkan ada yang takut bisnis akan merugi. Namun, dalam buku Marketing 3.0, From Product to Customer to The Human Spirit (2010), disebutkan ada tiga peranan yang bisa diambil oleh perusahaan untuk ambil bagian dari misi pelestarian lingkungan, yakni sebagai inovator, investor, dan propagator. Ada tiga contoh perusahaan yang mengambil ketiga peran itu. DuPont sebagai inovator. Wal-Mart sebagai investor. Timberland sebagai propagator.  Saya pernah membahasnya dalam tulisan berjudul “Saatnya Marketing Berdamai dengan Alam.” Berikut penjelasan singkatnya:

DuPont merupakan perusahaan sains yang sudah beroperasi dua abad. Dulu, ia dikenal sebagai perusahaan pencemar lingkungan dan turut andil pada bocornya lapizan ozon Antartika. Tapi, berhasil mengubah diri menjadi perusahaan ramah lingkungan. DuPont sukses mengurangi emisi gas secara signifikan. DuPont juga berhasil mengintegrasikan pelestarian lingkungan ke dalam inti model bisnis dan operasionalnya. DuPont tak hanya mengurangi operasional yang membahayakan lingkungan, tapi juga menciptakan produk-produk yang mencegah kerusakan bumi. DuPont adalah satu contoh inovator lingkungan. DuPont tidak hanya membuat produk ramah lingkungan tapi menciptakan produk yang berpotensi menyelamatkan lingkungan dari kerusakan.

Wal-Mart lain lagi ceritanya. Dulu, ia juga dikenal sebagai ritel yang selalu bermasalah dengan orang dan lingkungan. Sampai delapan persen konsumennya berhenti berbelanja di ritel raksasa itu. Tapi, Wal-Mart mentransformasi diri sebagai perusahaan yang ramah orang dan lingkungan. Wal-Mart menggelontorkan ratusan juta dolar untuk mendesain ulang model bisnisnya. Ia menginvestasikan USD 500 juta pada tahun 2005 agar toko-tokonya mampu menghemat energi, truk-truknya mengurangi emisi gas beracun, dan sebagainya, Wal-Mart, dalam hal ini, contoh perusahaan yang mengambil peran inovator.

Ada lagi Timberland. Timberland merupakan perusahaan global dalam desain, teknologi dan pemasaran produk sepatu, pakaian, dan aksesori berkualitas premium. Timberland menghidupi prinsip “doing well by doing good.” Tidak berhenti di sini. Timberland selain dikenal sebagai perusahaan ramah lingkungan, tapi juga perusahaan yang aktif berkampanye soal kesadaran lingkungan pada pelanggan dan masyarakat. Menurut saya, setali tiga uang dengan The Body Shop. Timberland dan The Body Shop menjadi contoh perusahaan yang mengambil peran propagator. (Bersambung)

Sigit Kurniawan

Writer, Journalist, Free Thinker. Twitter: @sigit_kurniawan

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Kuncinya, Introspeksi. Harus menerima kritikan orang lain. Ketika kita menutup telinga pada kritikan, itulah akhir dari segalanya"

-Wulan Tilaar, Vice Chairman Martha Tilaar Group-