Club, Mag, Net and Radio For Marketeers Community



Sang Penantang Scoopy



Yamaha Mio Fino Honda Scoopy techno.internetberitaku.com  Sang Penantang Scoopy

Source: http://3.bp.blogspot.com/

(Sumber : techno.internetberitaku.com)


Yamaha Mio Fino, produk terbaru dari Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) yang akhir-akhir ini gencar melakukan promosi baik above the line maupun below the line. Melalui slogannya yaitu “Fashionable Matic“, Mio Fino mencoba meramaikan pasar skutik atau skuter matic Indonesia.

YIMM sebenarnya memiliki beberapa jenis skutik, diantaranya adalah Mio Sporty yang cukup sukses dipasaran. Meskipun mewarisi nama Mio, Mio Fino memang berbeda dari pendahulunya. Tampilannya klasik dengan lekukan yang mengingatkan orang pada skuter vespa tempo dulu. Fino juga memiliki corak yang stylish dan eye-catching sesuai dengan selera anak muda yang ingin selalu tampil modis dan jadi perhatian. Model Mio Fino sebenarnya lebih mirip dengan Scoopy, skutik milik Astra Honda Motor (AHM).

Mio Fino beda dengan Scoopy?

Banyak yang menganggap bahwa Mio Fino sengaja diposisikan oleh YIMM untuk berhadapan dengan Scoopy. Dari spesifikasi teknis Mio Fino memang sangat mirip dengan Scoopy. Mio Fino mungkin tidak dilengkapi dengan break lock dan side stand switch atau standar samping otomatis seperti halnya Scoopy, namun Mio Fino memiliki kapasitas mesin yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan Scoopy. Mengenai harga, Mio Fino memiliki banderol dibawah Scoopy. Ditambah desain yang menarik dengan tiga varian pilihan Classic, Fashion, dan Sporty menjadikan Mio Fino sebagai produk yang menawarkan value lebih.

Ada yang menarik jika melihat latar belakang kedua skutik ini. Meskipun Scoopy merupakan pemain pertama di kategori skutik retro untuk pasar Indonesia, ternyata Mio Fino terlahir lebih dahulu. Fino sejak 2006 lalu sudah diluncurkan di Thailand namun baru masuk Indonesia diawal tahun 2012. Sedangkan Scoopy diluncurkan pertama kali di Thailand pada bulan September 2009 dan setahun kemudian Scoopy langsung masuk Indonesia.

AHM yang jeli melihat ceruk pasar skutik di Indonesia, melempar Scoopy ke pasaran dengan slogan “Uniquely Happy” dan membuka kategori baru yaitu skutik retro. Respon pasar ternyata luar biasa, bahkan konsumen rela inden untuk mendapatkan Scoopy. Kemudian setelah sekian lama menjadi pemain tunggal di kategori ini, kini datang pesaing pertama Scoopy yaitu Mio Fino.

Dari banyak kemiripan yang dimiliki Fino dan Scoopy, ada hal yang membedakan diantara keduanya yaitu slogan. Jika Scoopy menginginkan penggunanya untuk tampil unik melalui slogan “Uniquely Happy“, maka Fino ingin menjadi trend Fashion baru dengan slogan “Fashionable Skutik“.

Ancaman bagi Fino dan Mio

Seharusnya yang merasa terancam dengan kehadiran Mio Fino adalah Scoopy, namun potensi ancaman juga terjadi pada Mio. Ancaman tersebut  adalah Brand Positioning dari Mio Fino.

Ancaman pertama tentunya berasal dari pemain pertama yaitu Scoopy. Dari segi umur produk mungkin Scoopy lebih muda, namun Scoopylah yang pertama Kali masuk ke pasar Indonesia dalam kategori skutik retro dan Scoopy berhasil mengedukasi segmen ini dengan baik. Nama kategori untuk jenis produk ini menurut beberapa pihak sebenarnya adalah skuter matic retro modern, atau biasa disebut skutik retro modern. Namun karena Scoopy merupakan produk yang unik pada saat itu dan memiliki nama unik serta mudah diingat terutama oleh pasar Indonesia, nama Scoopy dianggap mewakili kategori tersebut. Nama yang generik dari Scoopy akan menjadi ancaman bagi Mio Fino yang secara bentuk dan spesifikasi memang mirip dengan Scoopy. Coba bayangkan ketika nanti konsumen menyebut Mio Fino sebagai motor Scoopy yang bermerk Mio Fino ?

Ancaman berikutnya adalah nama Mio Fino itu sendiri. Yamaha  tentunya memiliki pertimbangan sendiri untuk menambahkan kata Mio didepan nama Fino. Kesuksesan Mio diharapkan dapat diikuti oleh Fino. Mio sendiri merupakan varian Yamaha yang dikenal dengan skutik modern yang simpel, lincah dan easy to ride. Sedangkan Mio Fino diposisikan sebagai skutik yang fashionable, disamping memiliki bentuk yang modern retro.

Melihat kembali ke sejarah skutik di Indonesia, dimana sebenarnya Kymco adalah pamain skuter matic di Indonesia. Namun Kymco tidak mampu memanfaatkan keunggulan dan momentum yang ada. Yamaha kemudian masuk dengan skutik Nouvo dan kemudian disusul dengan Mio yang lebih simpel. Yamaha terus mengedukasi pasar dengan memperkenalkan skutik yang simpel, lincah dan easy to ride, berbeda dengan model matic ala Kymco yang bentuknya lebih besar. Pasar skutik Indonesia yang didominasi kaum hawa ternyata menyukai Mio yang identik dengan skutik simpel dan easy to ride. Kesuksesan Mio masih dapat dirasakan sampai sekarang, bahkan AHM melalui Vario dan Beat belum mampu menggeser dominasi Mio (AISI 2011).

Al Ries dan Jack Trout ahli positioning, sering mengatakan bahwa perang pemasaran yang sebenarnya ada di benak pelanggan. Image produk  yang telah tertanam di benak konsumen sangat sulit untuk dirubah, lebih mudah untuk menyesuaikan apa yang ada di pikiran konsumen dari pada memaksa konsumen untuk merubah pemahamannya.

Sekarang image Mio yang identik dengan skutik simpel, lincah dan easy to ride coba digabungkan dengan Fino yang diluncurkan dengan image fashion skutik dan sentuhan gaya retro modern. Meskipun keduanya berjenis skutik ada beberapa perbedaan mendasar diantara keduanya. Jika Mio memiliki image yang simple, maka Fino hadir dengan konsep fashionable dengan pernak-pernik yang eye catching. Fino memliki konsep retro modern dengan lekukan-lekukan yang khas menyerupai vespa tempo dulu, hal ini tentunya berbeda dengan image Mio yang simple dan lincah. Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi, termasuk dua kemungkinan buruk. Pertama, Brand image Mio yang terlalu kuat akan mendominasi dan menghambat pembentukan image Fino, sehingga Mio Fino dengan image fashion skutik dan sentuhan bentuk retro modern akan sulit masuk dalam benak konsumen. Kemungkinan kedua adalah prinsip “teeter totter” ala Al Ries dan Jack Trout, jika Mio Fino kemudian sukses, maka kesuksesan Mio Fino dikhawatirkan akan membunuh saudara tuanya Mio. Dimana image Mio akan terdilusi dan berubah mengikuti image Mio Fino, yaitu fashion skutik dan tentunya dalam platform retro modern.

Ancaman bagi Scoopy

Scoopy sebagai pemain pertama dan juara bertahan di kategori skutik retro modern tentunya tidak lepas dari ancaman. Apa bentuk ancaman tersebut?

Ancaman itu ada pada image dari Scoopy. Sesuai dengan slogannya “Uniquely Happy“, Scoopy menawarkan sesuatu yang unik dengan membuka kategori baru di pasar skuter matik. Scoopy hadir dengan konsep klasik atau mereka menyebutnya dengan istilah retro modern. Konsumen pengguna Scoopy merupakan orang-orang yang ingin tampil beda, dan dengan Scoopy mereka bisa menjadi unik dengan tampil retro.

Kini dengan makin suksesnya penjualan Scoopy di pasaran, maka semakin banyak orang yang menggunakan Scoopy dan tentunya juga motor “Scoopy” yang bermerk lain. Image menjadi “unik” dengan sendirinya akan semakin dipertanyakan. Itulah dilema menjadi produk yang ingin disebut unik, namun dia bukan satu-satunya yang memiliki jenis produk tersebut.

Mio Fino datang di saat yang tepat dengan konsep fashion. Skutik retro sekarang menjadi mode atau trend terutama dikalangan remaja. Seperti halnya fashion dikalangan remaja pada umumnya, seseorang akan cenderung meniru apa yang sudah dilakukan oleh kebanyakan orang atau komunitasnya. Mio Fino mencoba memberikan pilihan fashion yang lebih sesuai dengan segmen remaja dengan varian pilihan classic, fashion dan sporty. Mengikuti fashion bukan berarti ingin tampil beda. Jika Scoopy menginginkan pemakainya untuk tampil beda, maka Fino menginginkan pemakainya untuk tidak ketinggalan trend fashion.

Persaingan Fino dan Scoopy ini akan menjadi kompetisi yang menarik untuk kesekian kalinya antara YIMM dan AHM, 2 penguasa pasar motor di Indonesia. Keduanya mencoba menerapkan strategi yang luar biasa, namun hasil dilapangan bisa saja berbeda karena banyak hal, dan disitulah letak seni dari sebuah strategi. Semoga kompetisi ini akan terus berjalan sehat dan menjadi contoh implementasi dari strategi marketing yang berkualitas bagi para pelaku bisnis di Indonesia.

–ooo–

TWITTER REACTIONS

COMMENTS