This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Saturday,October 25 2014

Maneuver

Sensitivitas Netizen Perempuan

November 21 2011 | By Sigit Kurniawan


Belakangan ini, ada  hal yang hangat diperbincangkan terkait dengan iklan televisi. Satu hal itu, terkait dengan TVC susu kalsium, bermula dengan protes seorang penggiat Twitter, Alissa Wahid (@AlissaWahid) yang memprotes konten iklan tersebut yang dinilai merendahkan perempuan, khususnya ibu rumah tangga. Di iklan tersebut, diungkapkan perkataan "Sekarang, wanita bisa jadi lebih dari wanita."

Mungkin sang pembuat iklan tidak mempunyai maksud positif. Pesan dari iklan itu perempuan sekarang bisa menjadi apa saja, seperti guru, manajer, maupun chef seperi yang disebut dalam iklan susu kalsium tersebut. Namun, maksud baik tidak selamanya bisa diungkapkan dengan baik pula. Kalimat "Sekarang, wanita bisa jadi lebih dari wanita," jelas bermasalah. Dalam konteks iklan tersebut, kalimat ini cenderung menganggap rendah perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Di Twitter, Alissa Wahid mengatakan "kalimatnya menyedihkan dan merendahkan perempuan."

Ada beberapa hal yang menarik dari kasus tersebut. Salah satunya, sensitivitas netizen, khususnya netizen perempuan. Pada dasarnya, perempuan memiliki sensitivitas  tinggi. Era yang serba terhubung dengan gampang menyebarkan sensitivitas ke berbagai pihak. Media Internet menjadi alat word-of-mouth yang mumpuni. Sebab itu, tak heran bila apa yang digelisahkan Alissa Wahid dengan cepat menjadi bahan diskusi bersama. Termasuk menjadi bahan berita bagi media arus utama. Wacana yang dimulai di halaman 140 karakter berlanjut menjadi wacana umum setelah dijadikan berita-berita di media massa nasional.

Mungkin, sepuluh tahun silam, protes semacam belum tentu menjadi perbincangan publik karena keterbatasan media. Sekarang, semua tampil transparan. Kegelisahan satu orang dengan cepat "menular" menjadi kegelisahan banyak orang. Sebab itu, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemasar. Tidak gampang memilih bahasa komunikasi. Tidak asal bicara. Tidak asal menulis. Di tengah konsumen yang semakin well-informed dan cerdas, pemasar pun wajib membekali dengan aneka pengetahuan. Tidak sekadar pengetahuan produk, tapi juga pengetahuan jender, psikologi sosial, dan sebagainya.

Ada komentar?

Sigit Kurniawan

Writer, Journalist, Free Thinker. Twitter: @sigit_kurniawan

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

"Co-opetition adalah seni. Levelnya di atas kompetisi maupun akuisisi."

-Hasnul Suhaimi, Presdir PT XL Axiata-