The Heart is Everything!
Pada 18 Juli, Crystal Serenity “docking” lagi di Skjolden. Tempat kecil cantik ini ada di “bagian dalam” Norwegia. Jadi kapal pesiar dengan kapasitas seribu orang ini harus masuk jalan air yang berkelok-kelok untuk sampai ke situ. Tentu saja, ada banyak Fjord indah yang bisa dilihat di perjalanan cruise dengan rumah-rumahnya yang warna warni khas Norwegia.
Kali ini, saya ikut on-shore tour mengunjungi Jotunheimen National Park. Suatu area kurang lebih seribu seratus meter persegi yang dilindungi. Sopir bus memang jagoan, membawa tiga puluh orang penumpang naik ke ketinggian 1.400 meter yang katanya tempat tertinggi yang bisa dicapai dengan jalan normal di Eropa Utara.
Ketika ada di atas, kita ternyata berada di atas awan. Sudah hampir dua minggu saya menikmati keindahan Norwegia hampir saban hari. Seperti post-card, kali ini saya juga melihat banyak Fjord dengan Gleicernya, sisa musim dingin yang lalu. Selain itu, juga air sungai dan danau terlihat hijau, jernih, dan bersinar karena sangat bersih. Di bagian yang rendah, ada banyak pohon, tapi di bagian atas tidak ada lagi. Mungkin karena tidak bisa “survive” karena udaranya. Menurut informasi, di situ, banyak ikan di sungai dan reindeer di gunung.
Semua orang boleh jalan, berkemah di mana pun asal tidak membuang sampah. Semua orang boleh menangkap binatang dan ikan asal mengantongi “license.” Semua orang diminta untuk ikut bertanggung jawab terhadap alam yang murni itu. Ya, ”hanya” itulah yang merupakan “produk utama” Skjolden untuk dijual. Karena itu, slogannya sederhana aja. Skjolden is the Heart of Norway!
Saya jadi ingat pada Taiwan yang mengklaim sebagai “The Heart of Asia”. Suatu tagline yang smart, ketika Anda tidak punya apa-apa untuk dijual. Skjolden memang kalah dengan kota-kota lain yang kita singgahi, di mana ada industri, peternakan, tambang batu bara, dan sebagainya. Karena itu, Skjolden hanya menjual kehidupan orang-orang sederhana yang hidup dari pertanian tradisional—bukan industri perkebunan.
Yang ditonjolkan adalah bagaimana orang-orang sederhana itu bisa “survive” di antara modernisasi ekonomi. Begitu juga Taiwan yang “nothing” dibanding Tiongkok. Taiwan bahkan sudah didepak dari PBB, tapi tetap “survive” dalam ekonomi. Walaupun Tiongkok sudah jadi raksasa ekonomi nomer dua di dunia tapi Taiwan adalah kawasan ekonomi jauh lebih kecil namun lebih stabil. Dan, yang lebih penting lagi, Taiwan ingin mem-posisi-kan diri sebagai negara yang lebih punya “hati” ketimbang Tiongkok yang bisa “menghalalkan segala cara”.
Taiwan ingin menarik perhatian orang supaya tidak dilupakan bahwa orang-orangnya sudah lebih “civilized” dari pada yang di China Mainland. Jadi, kalau Anda “kalah” dibanding pesaing Anda dalam size atau speed atau apapun, coba pertimbangkan untuk menang di hati. Kota mana di tanah air boleh menyebut sebagai “The Heart of Indonesia?”
Siapa yang berani menyebut dirinya I am a Salesman with a Heart? Juga Service from the Bottom of Our Heart untuk sebuah Bank? Honda Motor di Indonesia sekarang juga pakai slogan “One Heart.”
Customer selalu punya Mind, Heart, and Soul. Yang paling gampang “disentuh” memang Heart atau Hati. Anda setuju?




















